IIQ Dorong Ekoteologi Qurani Atasi Krisis Iklim |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menilai perempuan memiliki peran penting dalam merespons persoalan lingkungan dan krisis iklim melalui pendekatan ekoteologi Qurani. Pendekatan tersebut menghubungkan pemahaman Alquran dengan tanggung jawab manusia menjaga alam dan keberlangsungan kehidupan.

Rektor IIQ Jakarta Nadjematul Faizah mengatakan, tanggung jawab manusia kepada Allah SWT tidak berhenti pada dimensi ritual dan spiritual. Tanggung jawab tersebut juga mencakup amanah untuk menjaga alam.

“IIQ memiliki tanggung jawab untuk melahirkan perempuan-perempuan berilmu yang tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga membaca zaman; tidak hanya memahami ayat-ayat qauliyah, tetapi juga peka terhadap ayat-ayat kauniyah; tidak hanya menjaga hafalan Alquran, tetapi juga menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan,” ujar Nadjematul dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (2/10/2026).

Menurut Nadjematul, ekoteologi Qurani tidak hanya ditempatkan sebagai wacana akademik. IIQ Jakarta menerapkan pendekatan tersebut melalui Kuliah Kerja Lapangan (KKL) nasional dan internasional yang melibatkan 415 mahasiswa dengan fokus pada konservasi lingkungan berbasis perspektif Qurani.

Nadjematul mengatakan, perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Peran tersebut dapat dijalankan melalui keluarga, kegiatan sosial, maupun lingkungan akademik.

“Perempuan memiliki posisi sentral—baik sebagai pendidik pertama dalam keluarga, penggerak perubahan sosial, hingga pemikir keilmuan yang menjaga keseimbangan alam,” katanya.

Pesan mengenai ekoteologi Qurani tersebut mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda IIQ Jakarta bertema “Ekoteologi Qurani: Meneguhkan Peran Perempuan dalam Merawat Kehidupan” di Jakarta. Sebanyak 583 lulusan mengikuti wisuda, terdiri atas 416 sarjana, 155 magister, dan 12 doktor.

Dengan tambahan tersebut, IIQ Jakarta kini memiliki 6.264 alumni yang tersebar di berbagai daerah. Nadjematul meminta para lulusan terus mengembangkan ilmu sekaligus membawa nilai-nilai Alquran dalam kehidupan. “Rawatlah ilmu, rawatlah nilai, dan rawatlah kehidupan,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten Asep Saepudin Jahar mengatakan, kekhasan IIQ dalam kajian Alquran perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan mengikuti perubahan zaman. Menurut Asep, keunikan dan profesionalisme dalam kajian Alquran menjadi modal bagi perguruan tinggi di tengah persaingan pendidikan tinggi.

“IIQ punya kekhususan dan keunggulan. Maka dari itu, terus cari keunggulan itu dan terus terkuat di wilayah itu. Kenapa? Karena persaingan membutuhkan keunikan dan keunggulan,” kata Asep.

Asep juga menilai pengembangan kajian Alquran perlu mengikuti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Adaptasi teknologi tersebut perlu disertai peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, dan sistem penjaminan mutu.

“Mari dengan konteks itu, bagaimana pengembangan Alquran untuk juga beradaptasi dengan teknologi AI dan teknologi digital. Harus dimulai, karena tanpa itu kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Ketua Umum Yayasan IIQ Jakarta Rully Chairul Azwar mengatakan, penguatan akademik terus dilakukan untuk mencapai visi menjadi perguruan tinggi bereputasi global pada 2044. IIQ Jakarta juga memperkuat kualitas akademik melalui akreditasi institusi dan sejumlah program studi yang meraih predikat Unggul.

Mahasiswa dan alumni IIQ Jakarta juga meraih 10 gelar kejuaraan dalam MTQ Nasional XXXI di Semarang. Selain penguatan akademik, Yayasan IIQ Jakarta menyiapkan pembangunan Qur’anic Center berupa gedung delapan lantai yang dirancang sebagai pusat kajian Alquran dengan fasilitas modern.

“Dukungan infrastruktur pun terus kami pacu melalui rencana pembangunan Qur’anic Center—sebuah gedung delapan lantai berfasilitas modern yang digagas Yayasan IIQ Jakarta sebagai Center of Excellence kajian Alquran,” kata Rully.

Pengembangan ekoteologi Qurani menjadi salah satu pendekatan IIQ Jakarta untuk membawa kajian Alquran merespons persoalan lingkungan. Pendekatan tersebut juga menempatkan perempuan sebagai salah satu aktor dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.