Indonesia Promosikan Ketahanan Bencana Berbasis Komunitas kepada ASEAN

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Luar Negeri menggelar kegiatan ASEAN-ID Roadshow, agenda strategis yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ASEAN-ID Resilience yang diselenggarakan di sela Pertemuan Komite Penanggulangan Bencana ASEAN (ACDM) ke-48, pada 31 Juli 2026 di Bandung, Jawa Barat.

ASEAN-ID Roadshow dirancang untuk membumikan konsep Ketahanan Berkelanjutan (Sustainable Resilience). Upaya ini merupakan tindak lanjut dari prakarsa Indonesia pada Keketuaan ASEAN 2023, yang menempatkan kesiapsiagaan komunitas lokal dan pemuda sebagai garda terdepan dalam merespons ancaman perubahan iklim dan bencana.

Dalam implementasinya, Kementerian Luar Negeri memetakan ASEAN-ID Roadshow menjadi tiga sub-kegiatan utama. Pertama, ASEAN Goes to Campus di Universitas Padjadjaran yang menyoroti peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan di ASEAN.

Kedua, Kunjungan ke Desa Lebak Muncang, Ciwidey, Jawa Barat, guna membagikan praktik baik pemberdayaan berbasis komunitas serta peran desa sebagai fondasi ketahanan nasional dan kawasan kepada delegasi asing.

Ketiga, Kunjungan Budaya ke Rumah Angklung Jawa Barat untuk memperkenalkan budaya tradisional dan produk ekonomi kreatif sebagai sumber utama ketahanan komunitas lokal. Kegiatan tersebut dihadiri dari perwakilan Perutusan Tetap Negara Anggota ASEAN, Negara Mitra serta Kedutaan Besar negara-negara sahabat, pelajar SMA, dan mahasiswa sejumlah Universitas di Bandung dan sekitarnya.

Menyoroti peran krusial pemuda dalam inisiatif ini, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri, Yuliana Bahar, menyampaikan pesannya kepada para mahasiswa. “ASEAN tidak boleh hanya berhenti pada keputusan atau pertemuan para pemimpin di tingkat atas; melainkan harus dimulai dari kalian, para pemuda,” tegasnya.

Pentingnya peran pemuda ini juga ditekankan dalam konteks keadilan iklim global. Duta Besar Pakistan untuk Republik Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, yang turut hadir sebagai pembicara, menyoroti urgensi bagi generasi muda untuk bersuara.

“Meskipun Indonesia dan Pakistan berkontribusi kurang dari 1 persen terhadap emisi gas rumah kaca global, keduanya justru menjadi bagian dari 10 besar negara paling terdampak oleh perubahan iklim,” ungkap Dubes Zahid. “Oleh karena itu, kita memiliki hak untuk bersuara lebih lantang demi pelestarian iklim dan kalian, para pemimpin masa depan, harus berani menyuarakan hal ini,” jelasnya.

BACA JUGA:


Turut memperkuat pandangan tersebut, Wakil Kepala Perwakilan Jepang untuk ASEAN, Yoshiyasu Iseki, menegaskan pentingnya sinergi kawasan yang bermula dari akar rumput.

“Ketahanan sejatinya berawal dari masyarakat. Tantangan kawasan membutuhkan kemitraan dan kerja sama regional yang inklusif serta aksi nyata dari para pemuda yang akan membentuk fondasi masa depan kawasan ini,” kata Iseki.

Berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjajaran, kegiatan ASEAN-IDRoadshow ini menjadi wujud diplomasi ketahanan Indonesia yang berpusat pada kekuatan masyarakat lokal. Melalui pendekatan ini, Indonesia menargetkan agar konsep ketahanan kawasan dapat diimplementasikan secara konkret dengan menjadikan ekosistem desa dan generasi muda sebagai motor penggerak utamanya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+