Warta Ekonomi, Bandung -
Proyek Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASPP) senilai US$653 juta yang mulai berjalan sejak 2025 hingga 2029 dinilai menjadi peluang besar bagi industri geospasial nasional. Selain mendorong reformasi administrasi pertanahan dan tata ruang, proyek yang didukung pendanaan Bank Dunia tersebut diperkirakan membuka pasar baru bagi perusahaan jasa survei dan pemetaan di Indonesia.
Proyek ILASPP dipimpin Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sebagai Project Management Unit dengan melibatkan Badan Informasi Geospasial (BIG), Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, serta Kementerian Transmigrasi.
Pemimpin Kantor Jasa Surveyor Berlisensi (KJSB) Gumilar dan Rekan, Raden Gumilar, mengatakan proyek tersebut menjadi momentum strategis bagi penguatan industri geospasial nasional karena mengintegrasikan data administrasi pertanahan dengan sistem tata ruang dalam satu ekosistem.
“Proyek strategis senilai US$653 juta ILASPP dirancang sebagai mega proyek nasional yang mengintegrasikan data administrasi pertanahan, seperti sertifikat tanah, dengan perencanaan tata ruang, sehingga urusan izin bangunan, tata kota, dan kepemilikan lahan ke depan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri,” kata Raden Gumilar di Bandung, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, komponen yang paling berpotensi menggerakkan industri berada pada pembangunan peta dasar skala 1:5.000 yang dikerjakan BIG. Dari total pendanaan proyek, lembaga tersebut memperoleh alokasi sekitar US$298 juta, terbesar kedua setelah ATR/BPN.
Peta dasar tersebut akan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), aksi mitigasi perubahan iklim, hingga proses perizinan. Pelaksanaannya juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan jasa survei dan pemetaan nasional melalui mekanisme tender.
“Komponen inilah yang secara langsung membuka ruang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan jasa survei dan pemetaan nasional melalui mekanisme tender,” ujarnya.
Raden menilai tantangan utama perusahaan nasional bukan lagi pada kompetensi sumber daya manusia (SDM), melainkan penguatan kapasitas perusahaan dari sisi aset, modal kerja, dan pengalaman mengerjakan proyek berskala besar.
“SDM kita sebenarnya sudah memiliki kompetensi yang baik. Tantangannya adalah bagaimana kapasitas perusahaan, baik dari sisi aset, modal kerja, maupun pengalaman proyek, terus diperkuat sehingga semakin mampu bersaing dalam proyek-proyek berskala besar,” katanya.
Senada, Ketua Masyarakat Ahli Survei Kadaster Indonesia (MASKI) Komisariat Wilayah Jawa Barat, Encep Gani Sugandi, mengatakan perusahaan harus mempersiapkan diri sejak tahap perencanaan apabila ingin memanfaatkan peluang proyek ILASPP.
“Sebelum mengikuti tender, perusahaan harus melakukan koordinasi internal, terutama dengan tim administrasi yang terlibat. Selain itu, seluruh persyaratan harus dipersiapkan, mulai dari personel, peralatan, hingga kesiapan modal awal apabila nantinya memenangkan pekerjaan,” ujarnya.
Encep menjelaskan mekanisme evaluasi tender pada proyek yang didanai lembaga internasional bersifat objektif karena mencakup pemeriksaan dokumen administrasi, kemampuan teknis, pengalaman, hingga ketersediaan sumber daya.
“Mekanisme semacam ini justru menguntungkan perusahaan nasional yang mempersiapkan diri dengan baik, karena penilaian bersifat objektif dan terukur, bukan sekadar mengandalkan nama besar,” katanya.
Ia juga menilai keterlibatan perusahaan asing dalam International Competitive Bidding (ICB) tidak perlu dipandang sebagai ancaman. Menurutnya, kolaborasi dengan perusahaan internasional justru dapat mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan kapasitas industri geospasial nasional.
“Dari sisi peralatan maupun personel sebenarnya beberapa perusahaan nasional sudah memiliki kemampuan yang memadai. Kolaborasi dengan perusahaan internasional dapat menjadi langkah positif untuk mendukung proyek berskala besar sekaligus memperkuat kapasitas industri geospasial nasional,” ujarnya.
Selain penguatan kapasitas perusahaan, kedua narasumber menilai penguasaan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri.
Raden menyebut teknologi seperti LiDAR, radar, foto udara, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan cloud computing mampu mempercepat akuisisi serta pengolahan data geospasial.
“Teknologi akan sangat membantu apabila dipadukan dengan SDM yang kompeten dan proses bisnis yang baik. Jadi, keduanya harus berkembang secara bersamaan,” katanya.
Sementara itu, Encep menilai AI dapat mempercepat proses ekstraksi fitur dan pengolahan data, namun hasilnya tetap memerlukan validasi tenaga ahli agar kualitas dan akurasi data tetap terjaga.
“AI memang sangat membantu pekerjaan geospasial. Namun hasilnya tetap harus difilter dan divalidasi sehingga data yang digunakan benar-benar akurat dan memberikan manfaat maksimal,” tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.