Baghdad (ANTARA) - Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi pada Rabu (12/8) menyampaikan bahwa 30 September tetap menjadi tenggat waktu pasti untuk mengakhiri misi militer koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) di Irak serta menyelesaikan penarikan pasukannya.
Hal itu disampaikan oleh al-Zaidi kepada Komandan Komando Pusat AS Brad Cooper yang sedang berkunjung ke Irak.
Dalam sebuah pertemuan di Baghdad, kedua belah pihak menegaskan kesepakatan penuh dan final mereka untuk mengakhiri misi militer koalisi sesuai dengan konsensus yang telah dicapai saat kunjungan al-Zaidi ke Washington pada pertengahan Juli, ungkap pernyataan dari kantor media al-Zaidi.
Al-Zaidi menyebut 1 Oktober akan menandai era baru bagi Irak, karena negara tersebut akan bebas dari kehadiran militer asing dan menjalankan kedaulatan nasional penuh atas wilayahnya, kata pernyataan tersebut.
Dia juga mengatakan bahwa pembatasan kepemilikan senjata hanya pada otoritas negara sesuai dengan hukum tetap menjadi prasyarat penting dalam menjaga kedaulatan, stabilitas, dan pembangunan masa depan Irak.
Pada 2014, kelompok ISIS merebut wilayah yang luas di bagian barat dan utara Irak. Koalisi pimpinan AS untuk memerangi kelompok ekstremis tersebut kemudian dibentuk dan mengerahkan pasukannya ke Irak.
Mengutip seorang narasumber dari Irak, Al Jazeera pada Rabu melaporkan bahwa komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran, Esmail Qaani, melakukan kunjungan mendadak ke Baghdad sebelumnya pada pekan ini dan mengadakan pertemuan tertutup dengan para pemimpin politik dan keamanan serta komandan kelompok paramiliter Syiah untuk membahas rencana pemerintah Irak untuk melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata tersebut.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.