Kabut asap mulai ganggu transportasi di Sungai Mentaya Sampit
Minggu, 9 Agustus 2026 18:15 WIB
Suasana aktivitas penyeberangan di Sungai Mentaya yang diselimuti kabut asap, Minggu (9/8/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Sampit (ANTARA) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di darat, tetapi juga mulai berdampak terhadap kelancaran transportasi air di Sungai Mentaya, Sampit.
“Kalau mau jalan harus lihat alur dulu. Kalau alur turun, jangan coba-coba menyusur air. Kita menyusur ke sana dulu ke hulu, baru kita tembak ke situ. Susah kita mau lihat,” kata salah seorang pengemudi kelotok, Amat di Sampit, Minggu (9/8).
Ia menyebutkan, kabut asap cukup sering menyelimuti alur Sungai Mentaya, khususnya pada pagi hingga menjelang siang. Kondisi itu menyebabkan jarak pandang pengemudi kelotok menjadi terbatas sehingga mereka harus lebih cermat menentukan jalur pelayaran.
Bagi pengemudi kelotok, kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi faktor penting sebelum memutuskan untuk berangkat. Mereka perlu memastikan kondisi alur sungai terlebih dahulu agar perjalanan tetap aman, terutama saat kabut asap cukup tebal.
Keterbatasan jarak pandang membuat pengemudi tidak leluasa memantau kondisi di sisi kiri dan kanan sungai. Situasi tersebut semakin berisiko ketika kelotok harus berbagi jalur dengan kapal berukuran besar atau tongkang.
“Kita mau lihat kiri kanan tidak bisa, harus lurus saja kita. Harus waspada kalau ada tongkang lewat, kita harus hati-hati,” ujarnya.
Menurutnya, pengemudi kelotok tidak dapat menjalankan perahu dengan kecepatan dan pola pelayaran seperti kondisi normal. Mereka harus mengurangi risiko dengan membaca situasi di depan dan memastikan posisi perahu sebelum melanjutkan perjalanan.
Kabut asap yang menutup pandangan juga membuat pengemudi harus lebih berhati-hati ketika memasuki bagian sungai tertentu yang memiliki aktivitas pelayaran cukup tinggi.
Komunikasi dan kewaspadaan menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tengah keterbatasan jarak pandang.
Senada disampaikan pengemudi kelotok lainnya, Irul menuturkan bahwa pada pagi hari, aktivitas penyeberangan cenderung meningkat karena warga dari Kecamatan Seranau dan kawasan sekitarnya harus menuju Sampit untuk bekerja, bersekolah maupun memenuhi berbagai kebutuhan lainnya.
Kondisi jarak pandang yang terbatas pada jam-jam tersebut membuat pengemudi harus menghadapi tantangan lebih besar karena aktivitas masyarakat di sungai berlangsung bersamaan dengan kondisi kabut asap.
“Kami juga tidak bisa leluasa menunda waktu menyeberang, apalagi ada anak-anak sekolah, kasihan mereka kalau sampai terlambat. Makanya, kami berharap musibah kabut asap ini segera berlalu,” ucapnya.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh pengemudi kelotok, tetapi juga masyarakat yang setiap hari mengandalkan transportasi sungai untuk beraktivitas. Sungai Mentaya menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan kawasan Sampit dengan wilayah permukiman di seberang sungai.
Salah seorang warga pengguna jasa penyeberangan, Ika menyampaikan kondisi kabut asap cukup terasa saat melakukan perjalanan pada pagi hari.
Selain jarak pandang yang terbatas, warga juga merasa perjalanan menjadi kurang nyaman karena harus berada di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.
“Kalau pagi memang asapnya terasa lebih tebal. Kita tetap harus menyeberang karena ada keperluan, tetapi memang lebih nyaman kalau kondisi sungainya tidak berkabut dan asap tidak terlalu tebal,” tuturnya.
Menurutnya, kewaspadaan pengemudi menjadi hal penting karena sebagian masyarakat masih bergantung pada kelotok untuk menyeberang Sungai Mentaya.
Terlebih pada pagi hari, penumpang cukup ramai karena warga harus menuju tempat kerja, sekolah maupun menjalankan aktivitas lainnya.
“Kami sebagai penumpang tentu berharap perjalanan tetap aman. Kalau jarak pandang terbatas, pengemudi memang harus lebih pelan dan hati-hati, karena kita tidak tahu ada kapal atau kelotok lain dari arah mana,” demikian Ika.
Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit mengeluarkan maklumat pelayaran atau Notice to Mariners kepada seluruh insan pelayaran untuk mewaspadai gangguan jarak pandang akibat kabut asap di perairan.
"Maklumat pelayaran ini kami sampaikan sehubungan dengan kebakaran lahan yang mengakibatkan kabut asap tebal menurunkan jarak pandang (visibility) di sebagian wilayah kerja KSOP Kelas III Sampit, khususnya pada pagi dan malam hari," kata Kepala KSOP Kelas III Sampit, Hotman Siagian.
Maklumat pelayaran yang diterbitkan pada 5 Agustus 2026 itu disampaikan sebagai bentuk antisipasi dini gangguan akibat kabut asap di perairan, khususnya di wilayah kerja KSOP Kelas III Sampit yang meliputi perairan alur Sungai Mentaya, Katingan, Sebangau, dan wilayah kerja KSOP Kelas III Sampit lainnya.
Maklumat disampaikan kepada seluruh nakhoda, perwira jaga, operator Kapal, dan perusahaan pelayaran, perusahaan keagenan kapal di wilayah kerja KSOP Kelas III Sampit.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.