Kanada Rekrut Puluhan Profesor dari AS, Harvard hingga Michigan Kehilangan Talenta Akademik

Program tersebut akan mendanai berbagai penelitian strategis, mulai dari perubahan iklim, ketahanan bencana, hingga pengembangan teknologi kesehatan dan deteksi penyakit.

Kebijakan Trump Picu Eksodus Akademisi

Pemerintahan Donald Trump dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan tekanan terhadap kampus-kampus di AS. Gedung Putih menuduh sejumlah universitas didominasi ideologi sayap kiri, terlalu fokus pada kebijakan keberagaman, serta gagal menangani dugaan antisemitisme di lingkungan kampus.

Selain itu, pemerintah AS juga membekukan sejumlah hibah penelitian federal yang dinilai tidak efisien atau tidak sejalan dengan prioritas pemerintah. Kebijakan tersebut memicu ketidakpastian bagi banyak akademisi dan peneliti.

Situasi ini dimanfaatkan Kanada untuk menarik talenta global dengan menawarkan lingkungan penelitian yang lebih stabil dan dukungan pendanaan jangka panjang.

Peneliti Iklim Tinggalkan AS

Salah satu akademisi yang memutuskan pindah adalah Seth Guikema, peneliti ketahanan iklim dari University of Michigan. Ia menjadi salah satu dari 48 peneliti asal AS yang akan melanjutkan karier akademiknya di Kanada.

Menurut Guikema, pendanaan untuk penelitian terkait iklim dan ketahanan terhadap bencana alam di Amerika Serikat semakin sulit diperoleh dalam beberapa tahun terakhir.

Ia akan menerima dana sekitar 8 juta dolar Kanada selama delapan tahun untuk mengembangkan alat dan metode yang membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi bencana alam seperti badai dan kebakaran hutan di University of Western Ontario.

“Saya mencari lingkungan akademik yang memungkinkan penelitian saya memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Kanada Tegaskan Keputusan Independen

Menteri Industri Kanada Melanie Joly menyambut kedatangan para profesor tersebut dan menyebut pemerintah sangat senang melihat akademisi kelas dunia memilih Kanada sebagai tempat melanjutkan penelitian.

Saat ditanya apakah langkah tersebut dapat dianggap sebagai upaya “membajak” talenta Amerika di tengah perang dagang kedua negara, Joly menegaskan bahwa Ottawa hanya mengambil keputusan yang dianggap terbaik bagi kepentingan nasionalnya.

“Pemerintah AS mengambil keputusannya sendiri, dan kami juga mengambil keputusan kami sendiri,” kata Joly.

Pernyataan itu muncul ketika hubungan Kanada dan AS sedang mengalami ketegangan akibat sengketa perdagangan dan kebijakan tarif yang semakin memanas.

Profesor Harvard dan Pakar Kesehatan Ikut Pindah

Gelombang perpindahan akademisi tidak hanya berasal dari bidang iklim. Peter Caravan, peneliti biopharmaceutical yang selama dua dekade berkarier di Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School, juga bergabung dengan program tersebut.

Ia akan melanjutkan riset mengenai deteksi dini kanker dan penyakit kronis di University of British Columbia, Vancouver.

Sementara itu, profesor hubungan internasional dari University of Southern California, Steven Lamy, menilai lembaga pemberi hibah penelitian di Amerika Serikat kini semakin dipolitisasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat tawaran pekerjaan dari universitas luar negeri menjadi jauh lebih menarik dibanding sebelumnya.

Kekhawatiran Brain Drain di Amerika Serikat

Sejumlah akademisi memperingatkan bahwa tren perpindahan ilmuwan ke luar negeri dapat berdampak besar terhadap masa depan riset Amerika Serikat.

Stephanie Burt, profesor sastra Inggris di Harvard University, menyebut pemangkasan dana penelitian sebagai “bencana generasi” bagi dunia sains dan ilmuwan muda.

Meski universitas-universitas Amerika masih mendominasi peringkat dunia, banyak kalangan khawatir daya tarik negara tersebut sebagai pusat penelitian global mulai menurun.

Presiden American Association of Colleges and Universities, Lynn Pasquerella, mengatakan kekhawatiran utama bukan hanya kehilangan ilmuwan dalam jangka pendek, melainkan kemungkinan Amerika Serikat menjadi semakin kurang menarik sebagai tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Jika tren ini berlanjut, Kanada berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari perpindahan talenta akademik global yang selama puluhan tahun menjadikan Amerika Serikat sebagai tujuan utama penelitian dan inovasi.

Sumber: BBC