Karakteristik unik wanita Indonesia saat alami peralihan menopause

Jakarta (ANTARA) - Menopause coaching specialist dan ahli gizi bersertifikat MNU Alvina Olivia membeberkan karakteristik unik dari keluhan yang dirasakan ketika wanita Indonesia mengalami transisi menopause (perimenopause).

“Perimenopause itu dimulai bisa 10 tahun sebelumnya. Semisal usia kita saat ini 49, berarti itu sudah dimulai pada usia 39. Kita akan merasa tubuh banyak berubah, kita tidak perlu terlalu tua untuk berada di fase perimenopause,” kata Alvina dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu.

Mengutip temuan studi Pan-Asia Menopause (PAM) yang melakukan uji coba multinasional acak terhadap 1.028 wanita pascamenopause di 11 negara dan wilayah, sembilan kelompok etnis, 18 gejala yang dicatat setiap hari, Alvina mengatakan ditemukan hanya ada 5 persen wanita Indonesia yang melaporkan mengalami sensasi panas mendadak atau hot flushes.

Baca juga: Gaya hidup sehat sebaiknya diterapkan jelang masa menopause

Baca juga: Studi sebut wanita 40 persen berisiko alami depresi saat perimenopause

Kemudian, sebesar 93 persen mengeluhkan nyeri atau pegal-pegal pada tubuh dan persendian dan 52 persen mengaku mengalami gangguan tidur.

Sayangnya, kondisi tersebut lebih sering diartikan sebagai dampak dari bertambahnya usia, masuk angin sehingga butuh dikerok sampai dengan kelelahan biasa.

“Tidak ada yang mengajarkan kita (para wanita) kalau gejala itu bagian dari perjalanan menopause, enggak ada yang menyebut itu menopause,” katanya.

Ia menjelaskan sebenarnya perimenopause adalah sebuah transisi yang wajar dialami oleh wanita. Hal itu disebabkan oleh pergerakan hormon estrogen yang kerap dikaitkan dengan penyebab menstruasi.

Hormon itu, katanya, memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh baik pada tulang, otot sampai dengan penyebaran lemak. Adanya perubahan yang disebabkan oleh estrogen dapat dengan mudah dirasakan para wanita.

“Biasanya wanita pada titik ini akan merasakan hidup menjadi lebih berat dan tidak merasa menjadi dirinya sendiri,” ujar Alvina.

Dia menganalogikan kondisi estrogen pada masa perimenopause sebagai peredam kejut (shockbreaker) pada kendaraan. Mengulang aktivitas yang sama saat bertambahnya usia tetap akan membuat kemampuan estrogen makin menurun.

“Ini dikarenakan ada estradiol, satu dari tiga estrogen yang paling dominan, sehingga saat kita ngomong estrogen, itu biasanya kita lagi mengarah ke estradiol. Estradiol itu mengayun secara liar, kadang dia naik atas banget sampe lebih tinggi dari saat kita umur 20-an, terus bisa-bisa minggu depannya anjlok, seanjlok-anjloknya, lalu naik lagi, gila-gilaan bulan depannya,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Alvina juga menyebutkan beberapa gejala perimenopause seperti munculnya lemak di area pinggir perut, kabut otak atau brain fog yang menyebabkan seseorang lupa mendadak ketika ingin melakukan sesuatu hingga perubahan suasana hati atau mood swing yang ekstrem.

Alvina menyarankan bagi para wanita yang merasa mengalami perimenopause untuk segera mencatat apakah memiliki gejala-gejala yang dirasa sudah mengarah pada fase itu.

Segera ceritakan perubahan yang terjadi pada tubuh ke orang-orang terdekat agar perasaan lebih nyaman dan tenang dalam menghadapi perimenopause.

Terakhir, Alvina menganjurkan untuk segera menemui dokter yang paham tentang menopause dan mau mendengarkan berbagai cerita perjalanan pasiennya dari awal sampai akhir untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Baca juga: Studi ungkap banyak perempuan belum kenali tanda perimenopause

Baca juga: Enam kebiasaan baik sebelum tidur bagi perempuan usia 50 tahun ke atas

Baca juga: Kebiasaan yang bantu tingkatkan kualitas tidur saat perimenopause

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.