Singkawang (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Singkawang, Kalimantan Barat hingga Sabtu (29/8) telah membakar lahan seluas 37,27 hektare dengan sekitar 23,6 hektare diantaranya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang Yuyu Wahyudin di Singkawang, Senin, mengatakan luasan karhutla tersebut tersebar di tiga lokasi, yakni kawasan akses menuju Bandara Singkawang di Jembatan 12, 13, dan 14 Kelurahan Sedau, Kelurahan Pangmilang, serta Kelurahan Sungai Rasau.
"Luasan ini mencakup jalan akses menuju bandara, khususnya jembatan 12, 13, dan 14 di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, seluas lima hektare. Namun, yang berhasil dipadamkan baru sekitar 1,5 hektare," katanya.
Sementara itu, kebakaran di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan, mencapai 12,77 hektare. Dari luasan tersebut, tim gabungan telah berhasil memadamkan sekitar 7,1 hektare dengan memanfaatkan sumber air dari kanal terdekat.
Adapun di Kelurahan Sungai Rasau, Kecamatan Singkawang Utara, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 19,5 hektare. Tim gabungan telah berhasil memadamkan sekitar 15 hektare di lokasi tersebut.
"Dalam melakukan upaya pemadaman, tim gabungan mengerahkan tujuh mesin pompa air serta armada pemadam dari Kodim 1202 untuk membendung penyebaran api," ujarnya.
Yuyu mengatakan upaya pengendalian karhutla melibatkan personel lintas instansi, di antaranya Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD Kota Singkawang, perangkat kecamatan dan kelurahan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta Barisan Pemadam Kebakaran Swasta (BPKS).
Tim gabungan fokus mengendalikan pergerakan api agar tidak meluas dan mendekati kawasan pemukiman maupun perkebunan milik masyarakat.
Menurut Yuyu, proses pemadaman menghadapi tantangan, karena sebagian besar lokasi merupakan lahan gambut yang ditutupi vegetasi semak belukar dan pakis dalam kondisi kering. Kondisi tersebut menyebabkan api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga berpotensi merambat di bawah permukaan gambut.
"Karakteristik ini memicu timbulnya kebakaran bawah permukaan atau gambut. Selain itu, faktor cuaca berupa hembusan angin kencang dengan kecepatan 18 hingga 22 kilometer per jam mempercepat penjalaran api di atas permukaan serta memunculkan titik-titik api baru," katanya.
Untuk mencegah api menjalar lebih luas, tim menerapkan teknik penyekatan dengan memotong jalur api serta memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar lokasi.
Yuyu memastikan operasi pemadaman darat akan kembali dilanjutkan karena kondisi api di sejumlah lokasi belum sepenuhnya padam. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan bara api tidak kembali menyala dan mencegah meluasnya kebakaran ke area lain.
"Kondisi api belum sepenuhnya padam, sehingga operasi pemadaman darat dipastikan akan kembali dilanjutkan pada esok hari," ujarnya.
Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.