Jakarta -
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya mandat dari Presiden Prabowo Subianto untuk mendongkrak rata-rata usia hidup masyarakat Indonesia. Dari target awal usia harapan hidup naik ke 74 tahun, pemerintah membidik angka tersebut bisa menembus 76 tahun pada 2029 mendatang.
"Indonesia itu sekarang naik jadi 74 tahun. Nanti, 2029 target umurnya 76. Ini saya 62 tahun, kalau umurnya 76 tinggal 14 tahun lagi," ungkap Menkes Budi dalam paparan capaian Cek Kesehatan Gratis (CKG), Selasa (4/8/2026).
Menkes membandingkan rata-rata usia hidup di beberapa negara maju, seperti Jepang, yang bahkan sudah mencapai 84 tahun. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, intervensi utama yang digenjot pemerintah adalah memperkuat program pencegahan melalui CKG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fokus utamanya menyasar tiga penyakit pemicu kematian tertinggi di Indonesia, yakni stroke, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.
"Kalau tiga penyakit ini bisa kita turunkan, cita-cita kita untuk menaikkan rata-rata usia hidup Indonesia akan lebih baik," lanjutnya.
Kalah dari Negara Tetangga, Tren Meninggal Geser ke Usia Muda
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI, dr Maria Endang Sumiwi, MPH, membeberkan bahwa meski usia harapan hidup RI menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) naik dari 72 ke 74 tahun, posisinya masih berada di bawah negara tetangga.
"Kalau lihat negara tetangga Thailand, Malaysia, dan Singapura, kita masih di belakang. Kalau Thailand sampai 77 atau hampir 78, Singapura sampai hampir 84, dan Malaysia itu 75. Nah kita meskipun naik, masih belum setara," papar Endang.
Kemenkes juga menyoroti adanya pergeseran tren kematian. Jika sebelumnya angka kematian bayi yang mendominasi, kini kasus kematian justru makin sering ditemukan pada kelompok usia produktif rentang 35 hingga 60 tahun.
"Tetapi, kita sekarang makin sering dengar teman kita lagi lari serangan jantung atau setelah badminton serangan jantung. Dari grafik BPS, menunjukkan orang meninggal mulai usia 35, 39, 50, atau 60, jadi ini yang kita cegah," jelasnya.
"Supaya kita ingin setara dengan negara maju dari sisi status kesehatan dan tentunya usia harapan hidup, kita lakukan dengan CKG. Karena kita ingin mencegah supaya jangan sampai meninggal, tapi jangan sampai menderita penyakit yang menyebabkan meninggal," tegas Endang.
Capaian CKG Tembus 73 Juta Orang
Sebagai upaya pencegahan awal, Endang menyampaikan adanya lonjakan partisipasi masyarakat dalam program CKG di semester I tahun 2026. Hingga 31 Juli 2026, jumlah warga yang mengakses pemeriksaan CKG sudah menembus 73 juta orang. Angka ini melonjak tajam dibanding capaian setahun penuh di tahun sebelumnya yang hanya mencakup 70 juta orang.
Peningkatan ini juga terlihat pada skrining kelompok bayi dan balita. Per 31 Juli 2026, pemeriksaan pada bayi baru lahir mencapai 1,5 juta anak (naik dari 1,2 juta pada periode sama tahun 2025).
Sementara pada kelompok balita dan usia pra-sekolah (1-6 tahun), lanjut Endang, cakupan CKG melesat dari 1 juta menjadi 4,5 juta anak.
"Memang masih banyak yang harus kita kejar untuk usia ini, karena usia ini yang paling rendah," pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
(sao/naf)