Kementan tingkatkan masa tanam padi di Natuna dongkrak hasil produksi
Kamis, 23 Juli 2026 13:51 WIB
Padi gogo di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. ANTARA/Muhamad Nurman
Natuna (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan intensitas masa tanam padi di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, sebagai salah satu strategi mendongkrak produksi sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau Rudi Hartono di Natuna, Kamis, mengatakan peningkatan masa tanam dilakukan dengan mengoptimalkan lahan yang sudah ada, sehingga petani dapat menanam padi lebih dari satu kali dalam setahun tanpa harus membuka lahan baru.
Menurut dia, tanaman padi memiliki masa panen sekitar tiga bulan. Dengan pengelolaan yang baik, petani dapat menanam dan memanen padi sebanyak dua hingga tiga kali dalam setahun pada lahan yang sama.
"Masa panen padi tiga bulan, jadi maksimal petani bisa menanam dan memanen dua atau tiga kali dalam setahun," katanya.
Ia mencontohkan, dengan metode itu, lahan yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan sekitar 10 ton gabah dalam setahun dapat menghasilkan dua hingga tiga kali lipat setelah frekuensi tanam ditingkatkan.
Rudi menjelaskan, strategi peningkatan masa tanam mulai diterapkan sejak kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Untuk mendukung program tersebut, Kementan mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor, pompa air, dan pembangunan sistem irigasi.
Selain alsintan, pemerintah juga menyalurkan berbagai sarana produksi, seperti benih unggul, pupuk, dan pestisida. Bantuan tersebut bertujuan mempermudah petani mengolah lahan sekaligus menjaga ketersediaan air, termasuk saat musim kemarau.
"Di Kepulauan Riau, Natuna merupakan salah satu daerah penerima bantuan terbanyak, baik alsintan maupun sarana produksi," ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan intensitas tanam tidak hanya diterapkan di Natuna, tetapi juga di berbagai sentra produksi padi di Indonesia.
Menurut dia, strategi tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia mampu meningkatkan produksi beras meskipun luas lahan pertanian terus berkurang akibat alih fungsi lahan.
Meski strategi tersebut telah menunjukkan hasil positif, Kementan terus melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas. Salah satunya melalui program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM AAS) yang saat ini mulai disosialisasikan kepada para penyuluh pertanian.
Melalui program tersebut, Kementan berupaya meningkatkan hasil panen dengan menambah populasi tanaman pada setiap hektare lahan. Ia mencontohkan, jika sebelumnya kebutuhan benih sekitar 25 kilogram per hektare, kini ditingkatkan menjadi sekitar 70 kilogram per hektare agar produksi padi dapat meningkat.
Pewarta : Muhamad Nurman
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.