Kepala Dinkes Barsel kasih tips cegah bahaya ISPA akibat polusi udara karhutla

Kepala Dinkes Barsel kasih tips cegah bahaya ISPA akibat polusi udara karhutla

Sabtu, 5 September 2026 23:03 WIB

Image Print

Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, dr Dadang Baskoro Nugroho. ANTARA/Bayu Ilmiawan.

Buntok (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, mencatat grafik penderita gangguan pernapasan tersebut terus menanjak tajam dalam tiga bulan terakhir, akibat paparan kabut asap dan emisi polutan yang merusak kualitas udara.

Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, dr Dadang Baskoro Nugroho di Buntok, kemarin, mengatakan kondisi iklim kemarau menjadi pemantik utama tingginya angka kesakitan masyarakat.

"Partikel debu tanah maupun materi polutif di udara sangat mudah diterbangkan angin, lalu terhirup masuk dan mengiritasi organ pernapasan warga," ucapnya.

Berdasarkan data resmi Dinkes Barito Selatan, tren kenaikan mulai terlihat signifikan pada Juli 2026 dengan angka mencapai 953 kasus, meningkat tajam dibandingkan data Juni yang sebelumnya hanya mencatatkan 584 kasus. Kenaikan drastis kembali terjadi hingga Agustus 2026, di mana penderita gangguan saluran pernapasan tersebut melonjak hingga menyentuh angka 1.123 kasus.

"Kasus ISPA memang jauh lebih mudah menyebar di daerah-daerah yang terdampak langsung oleh bencana karhutla," tegas Dadang.

Secara medis, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas—mulai dari hidung hingga pita suara—maupun bagian bawah yang meluas dari pita suara hingga ke paru-paru.

Meski virus dan bakteri merupakan penyebab utamanya, paparan asap karhutla yang sarat mikropartikel berbahaya melipatgandakan risiko peradangan serta memperburuk kondisi kesehatan masyarakat secara luas.

Dadang mengingatkan paparan asap dan polusi udara ini memicu risiko bahaya berlipat ganda bagi kelompok berisiko tinggi. Kelompok rentan yang dimaksud meliputi penderita penyakit respiratorik kronis, seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat kebiasaan merokok, tuberkulosis (TB) paru, serta penderita kanker paru.

Selain itu, penderita komorbiditas sistemik seperti diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, serta kelompok rentan lansia dan anak-anak berada dalam ancaman serius.

Penurunan fungsi organ yang terjadi seiring bertambahnya usia membuat lansia sangat sensitif terhadap polutan. Sementara pada kelompok anak-anak, tingginya risiko kerentanan disebabkan oleh kondisi fisik saluran pernapasan yang masih berada pada tahap pertumbuhan dengan ukuran diameter yang relatif lebih sempit dibandingkan orang dewasa.

"Lansia ikut menjadi kelompok dengan risiko ISPA tinggi karena terjadi penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan, seiring bertambahnya usia," ujar Dadang.

Sedangkan anak-anak termasuk dalam kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena saluran pernapasan mereka masih berkembang dan berdiameter lebih kecil.

"Kondisi ini memungkinkan saluran pernapasan anak lebih mudah mengalami penyumbatan ketika terjadi peradangan atau penumpukan dahak," ungkap Dadang.

Masyarakat diimbau agar senantiasa waspada terhadap gejala awal yang umumnya ditandai dengan batuk kering, pilek, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan. Apabila infeksi berlanjut dan memburuk, tubuh biasanya mulai merespons dengan timbulnya demam tinggi. Kemunculan dahak berwarna kekuningan menjadi indikator klinis bahwa telah terjadi infeksi bakteri sekunder di dalam tubuh.

Untuk kasus ISPA ringan yang dipicu paparan debu atau asap dalam durasi singkat, kondisi kesehatan pasien secara umum dapat membaik dalam kurun tiga hingga lima hari. Namun, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas atau layanan primer terdekat apabila keluhan kesehatan tak kunjung mereda.

"Tanda-tanda ini antara lain demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berwarna kekuningan, sesak napas yang memburuk, mual, muntah, atau diare. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya," paparnya.

Langkah pencegahan ISPA perlu dilakukan, terutama bagi masyarakat yang terkena dampak kabut asap karhutla. Pasalnya, komplikasi infeksi saluran pernapasan akut bisa sangat serius dan dapat menyebabkan kerusakan permanen sampai kematian. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu, berhentinya fungsi paru-paru, kegagalan pernapasan akibat tingginya CO2 dalam darah, dan gagal jantung kongestif.

Guna meminimalisasi risiko gangguan pernapasan di tengah kepungan kabut asap karhutla, Dinkes Barsel mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan senantiasa mengenakan masker pelindung berstandar ketika harus beraktivitas di luar rumah.

"Batasi kegiatan di luar ruangan atau yang berhubungan langsung dengan paparan kabut asap dan gunakan masker jika terpaksa harus ke luar ruangan dan terpapar dengan kabut asap," imbaunya.

Selain itu, masyarakat juga perlu mengambil langkah antisipatif dengan menciptakan lingkungan hunian yang kedap asap (clean room). Ketika kabut asap mulai masuk ke kawasan permukiman, masyarakat diimbau untuk menutup pintu dan jendela rumah. Cara ini dapat membantu mengurangi masuknya polutan dari udara luar ke dalam ruangan.

"Nah, yang paling sering kita kurang itu serat. Serat itu ada di sayur, ada di buah. Jadi enggak perlu kita sebenarnya harus mahal-mahal untuk itu, cukup kita mengonsumsi sayur dan buah, seperti pepaya, pisang secara rutin," sebutnya.

Tubuh juga harus dijaga tetap terhidrasi dengan mengonsumsi air putih minimal 8 gelas atau 2 liter per hari. Asupan cairan yang memadai berfungsi menjaga kelembapan serta melindungi lapisan lendir pada saluran pernapasan agar tetap bekerja optimal mengeluarkan partikel asing. Sementara untuk penggunaan suplemen tambahan seperti vitamin C, masyarakat diminta mengkonsumsi secara bijak.

"Karena suplemen itu tidak ada yang 100 persen aman. Semuanya punya efek. Sama dengan misalkan konsumsi vitamin C. Tapi kalau vitamin C terlalu berlebihan, bisa juga bikin asam lambung masalah. Kedua, bisa gampang terjadi pembentukan batu ginjal," pungkas Dadang.

Baca juga: DPRD Barito Selatan minta pemkab perkuat MPA cegah terjadi karhutla

Baca juga: Kabut asap tebal, Dishub Barsel ingatkan pengendara tingkatkan kewaspadaan

Baca juga: Pemkab Barsel kerahkan 200 personel gabungan tangani karhutla dan kekeringan

Pewarta : Bayu Ilmiawan
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.