Kesepakatan dengan Oman Masuki Tahap Akhir, Iran Tegaskan AS Harus Penuhi Syarat untuk Buka Selat Hormuz

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Hari Minggu, kesepakatan dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir, menegaskan kembali selat tersebut baru akan dibuka kembali setelah Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat lainnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran untuk seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sebelum Iran memblokirnya sebagai salah satu tanggapan atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Seorang pejabat AS pada Hari Jumat mengatakan kepada Reuters, kesepakatan antara Tehran dan Muscat sudah hampir tercapai dan dapat segera membuka kembali jalur perairan tersebut.

Menlu Araghchi mengatakan, kesepakatan mengenai selat yang terletak di antara kedua negara tersebut berada dalam "tahap akhir", namun menegaskan kembali pernyataannya pada Hari Sabtu, selat itu tidak akan dibuka kembali kecuali syarat-syarat lain dipenuhi, melansir Al Arabiya dan Reuters (10/8).

Kesepakatan tersebut akan menetapkan jalur pelayaran baru yang akan digunakan setelah AS memenuhi syarat-syarat itu dan selat dibuka kembali, demikian kutipan pernyataan Araghchi oleh kantor berita Iran, Mehr.

Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan, dan Tehran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Bulan Juni, ujar Menlu Araghchi, seraya menambahkan komunikasi tetap berlangsung melalui pihak perantara.

"Begitu kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," ujar pejabat AS tersebut kepada Reuters dengan syarat anonimitas.

Tindakan AS akan bergantung pada pelaksanaan komitmen oleh pihak Iran, kata pejabat tersebut.

Pernyataan AS itu mengindikasikan adanya urutan langkah yang sensitif menuju kesepakatan yang - menurut informasi dari berbagai sumber kepada Reuters - tampaknya akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui selat tersebut; sebuah skenario yang menurut pihak perusahaan pelayaran sulit untuk diterapkan.

BACA JUGA:


Status terkini kesepakatan tersebut belum jelas, dan tanggapan Iran mengisyaratkan adanya faktor-faktor lain yang juga akan turut berperan.

Menlu Araghchi mengatakan, pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada sejumlah syarat, termasuk pemberian kompensasi oleh AS kepada Iran atas serangan-serangan luas yang telah dilakukannya.

Sedankan sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, juga menyebutkan poin-poin seperti mengakhiri ancaman AS terhadap Iran, menghentikan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, mencabut blokade dan sanksi terhadap Iran, serta membebaskan aset-aset Iran.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+