Dani kembali bercerita mengenai pengalamannya saat menjalani perkuliahan. Menurut dia, dosen perlu menyediakan fasilitas atau materi yang dapat diakses mahasiswa dengan gangguan penglihatan, termasuk penyandang low vision.
Dani juga mengingatkan mahasiswa penyandang disabilitas agar tidak malu meminta bantuan apabila memang membutuhkannya.
"Karena saya dulu low vision, saya waktu kuliah itu masih lebih baik dari hari ini, dulu masih pakai kaca pembesar kalau baca buku. Nah, dulu kalau ujian, itu saya minta fotokopinya diperbesar. Jadi, ukurannya yang bisa terbaca oleh penglihatan saya dan dibantu oleh kaca pembesar itu masih bisa," ucap dia.
"Jadi, selain pengguna screen reader, tapi kan ada low vision yang mungkin masih manual membacanya, mungkin dia akan lebih nyaman menggunakan large print. Large print seperti itu nanti mungkin ada request butuh pembesaran materi perkuliahan, misalnya. Nah, mungkin itu perlunya ya, ada disabilitas ketika mahasiswa butuh hal-hal seperti itu bisa request," sambung Dani.
Juwita juga berharap para dosen dapat memberikan akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Menurut dia, akomodasi bukan berarti memberikan perlakuan istimewa, melainkan memastikan setiap mahasiswa mendapatkan akses yang sama.
"Jadi definisi akomodasi yang layak itu bukan mengistimewakan, tapi memberikan akses yang sama," ucap dia.
Juwita juga menceritakan pengalamannya ketika harus mengikuti mata kuliah fotografi. Sebagai penyandang tunanetra total, dia menyadari ada bagian dari mata kuliah tersebut yang sulit diikuti.
Sebelum perkuliahan dimulai, Juwita terlebih dahulu berdiskusi dengan dosen untuk mencari bentuk penilaian yang dapat disesuaikan dengan kondisinya.
"Jadi dulu ada mata kuliah fotografi. Saya sebelum mulai kelasnya sudah ketemu sama dosennya. Kemudian saya, sebelum kelas mulai, saya bilang, 'Pak, saya ada gangguan penglihatan, saya tunanetra, kan kalau ikut hunting foto itu enggak bisa,'" kata dia.
"Tapi untuk menyesuaikan pengambilan penilaian untuk mata kuliah ini, saya kira-kira bisa diganti sama apa ya, Pak? Coba anaknya ditanya dulu, kira-kira kamu kepikiran apa? Karena waktu itu saya mengajukan, nanti saya setiap minggu, atau setiap berapa minggu sekali, saya bikin makalah, Bapak boleh kasih ininya. Terus Bapaknya setuju, oke. Nanti kalau ujian, nanti saya kasih soal," sambung Juwita.
Jangan Berasumsi, Selalu Bertanya
Dani mengingatkan masyarakat agar tidak langsung berasumsi ketika melihat penyandang disabilitas membutuhkan bantuan.
Menurut dia, orang yang menggunakan tongkat khusus tunanetra belum tentu selalu membutuhkan pertolongan. Karena itu, langkah terbaik adalah menanyakan terlebih dahulu apakah bantuan diperlukan.
"Ketika ada orang ngeluarin tongkat, berarti dia butuh bantuan. Apakah benar begitu asumsi yang sebaiknya kita gunakan atau tidak? Nah, jangan asumsi, selalu bertanya, jadi jangan langsung, tapi ketika dia mengeluarkan tongkat, bisa ditawarkan, butuh bantuan tidak?" kata Dani.
"Ditanya, jadi jangan langsung, dilihat dulu situasinya apakah dia celingak-celinguk kayak orang lagi cari sesuatu. Dan itu kadang-kadang bingung. Makanya bisa mulai disamperin, ditanya, apakah butuh bantuan?" tutup Dani.