Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Tembus USD100 per Barel

Lukman Nur Hakim Akurat.co

| 10 September 2026, 08:49 WIB

Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Tembus USD100 per Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik

AKURAT.CO Harga minyak mentah dunia kembali menembus level psikologis USD100 per barel setelah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Reuters, Kamis (10/9/2026) kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan depan ditutup naik USD3,29 atau 3,4% menjadi USD101,21 per barel pada Rabu. Harga Brent sempat menyentuh level tertinggi USD101,58 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat USD3,02 atau 3,25% menjadi USD96,05 per barel. Kedua harga acuan tersebut sekaligus mencatat level penutupan tertinggi sejak 22 Mei.

Baca Juga: IHSG Ditaksir Sideways di Tengah Lonjakan Harga Minyak Global

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran dan AS kembali terlibat dalam serangkaian serangan terhadap kapal tanker. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan terhadap distribusi energi dari Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.

Iran pada Rabu menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Di sisi lain, Amerika Serikat disebut menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

"Pergerakan harga Brent menuju dan kembali ke atas level USD100 mencerminkan pasar yang semakin harus mengubah pandangannya mengenai berapa lama krisis Timur Tengah akan terus menghambat pasokan dari kawasan tersebut," kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Risiko Pasokan dari Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi global. Jalur tersebut biasanya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, aktivitas pelayaran di selat tersebut masih berada jauh di bawah level sebelum perang.

Data awal pelayaran Kpler menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Jumlah tersebut turun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 12 kapal.

Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti mengatakan, sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus, sekitar 8 juta–9 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz.

Angka tersebut sekitar dua kali lipat dibandingkan volume pada pekan sebelumnya.
Belakangan, arus pengiriman melalui jalur tersebut kembali turun hingga di bawah 2 juta barel per hari.

=====

"Fundamental pasar dalam jangka pendek tiba-tiba berubah ke arah pasokan yang jauh lebih ketat, dan aksi saling serang antara AS dan Iran tampaknya kini menjadi pola yang terus berlanjut, sementara peluang tercapainya kesepakatan damai kian menjauh," ujar Wakil Presiden Senior Perdagangan Energi BOK Financial, Dennis Kissler.

Risiko terhadap pasokan energi juga semakin besar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi pada pekan ini. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran pada instalasi minyak.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke infrastruktur energi negara-negara lain di kawasan Teluk.

Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi berpotensi mengganggu jalur alternatif pengiriman minyak melalui Laut Merah.

"Serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi semakin memperluas ancaman, memicu kekhawatiran bahwa gangguan dapat meluas hingga melampaui pasokan Iran, yakni berdampak pada infrastruktur dan jalur alternatif yang selama ini menjaga kelancaran aliran minyak mentah dari kawasan Teluk," ucap Analis Pasar Senior Capital.com, Daniela Hathorn.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L

Yosi Winosa

Putus Rantai Kemiskinan, Kementerian PPPA Dorong Peningkatan Akses Pendidikan untuk Perempuan

Guru SD Berdandan Mirip Wanita di Sulteng, Apa Hukumnya dalam Islam?

Prabowo Dorong Peran Kolektif BRICS untuk Perkuat Tata Kelola dan Ketahanan Global

Tips Islami Menghadapi Asap Karhutla, Insyaallah Tetap Sehat

Kualitas Udara Jakarta Masuk 3 Terburuk di Dunia Pagi Ini, Jangan Lupa Pakai Masker