Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster meminta setiap pembangunan di kawasan Batur, Kintamani, Bangli, agar dikoordinasikan dengan para tetua atau tokoh adat.
“Setiap program yang direncanakan di kawasan tersebut terlebih dahulu dikoordinasikan dengan para tetua adat Batur, dengan demikian setiap pembangunan dan kegiatan dapat berjalan searah dengan nilai, kepercayaan, serta tatanan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun,” kata dia dalam keterangan di Denpasar, Kamis.
Hal ini disampaikan Koster dalam upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur rangkaian Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, dimana ia mengingatkan bahwa Batur adalah salah satu sumber peradaban Bali.
Pesan ini utamanya diarahkan kepada Kepala BKSDA Provinsi Bali agar membangun sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli dan prajuru adat Batur sebagai penguasa wilayah yang masih kuat memegang adat dan tradisi.
Sinergi tersebut dinilai penting untuk bersama-sama menjaga, membangun, memuliakan, sekaligus mengharmoniskan kawasan Batur.
“Batur tidak hanya memiliki panorama alam yang memikat, tetapi juga menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan masyarakat Bali, menjaga Batur bukan hanya menjaga sebuah tempat, melainkan merawat mata rantai peradaban agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutur gubernur.
Pelaksanaan upacara melaspas pura sendiri menurutnya momentum mengenang kembali jejak sejarah Desa Adat Batur pasca-letusan dahsyat 1926 yang memaksa seluruh warga mengungsi (rarud) ke Desa Batur saat ini.
Ini meneguhkan komitmen menjaga kawasan yang diyakini sebagai salah satu sumber peradaban dan kesucian Bali, lebih dari sekadar sebuah kawasan dengan keindahan alam Gunung Batur dan Danau Batur, Batur memiliki kedudukan istimewa dalam kultur spiritual Bali.
Menyambung kehati-hatian dalam pembangunan, pemahaman mengenai sejarah ini penting agar setiap kebijakan yang dibuat tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan kawasan, tetapi benar-benar mampu mengayomi, melindungi, memuliakan, dan merawat warisan leluhur yang ada di Batur.
Pemprov Bali juga mengajak masyarakat melihat Batur bukan semata-mata sebagai tempat suci, melainkan sebagai sumber kesucian sebab mampu memancarkan wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi sumber kehidupan.
Maka itu Gubernur Koster menegaskan masyarakat tetap dapat menjadikan kawasan Batur sebagai sumber penghidupan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merusak kesucian maupun keseimbangan alam.
“Kalau sampai merusak, dampaknya luas, kalau sumber peradaban di Gunung Batur ini kita rusak, auranya akan terganggu dan tidak akan lagi memancarkan kesucian,” ucapnya.
Ia menekankan perlunya menjaga jarak antara kawasan yang menjadi sumber kesucian dengan aktivitas pemanfaatan untuk kepentingan ekonomi.
Kawasan di sekitar Batur dapat ditata dengan menyediakan tempat-tempat yang baik untuk menikmati panorama gunung dan danau tanpa mengganggu kawasan yang memiliki nilai spiritual dan historis.
Dengan demikian, pengembangan kawasan tidak harus mempertentangkan antara pelestarian dengan penghidupan masyarakat, keduanya berjalan berdampingan dengan tetap menempatkan kesucian, kelestarian alam, serta warisan leluhur sebagai pijakan utama.
“Yang utama adalah bagaimana kita merawat, menjaga, memuliakan, dan memajukan berbagai warisan leluhur yang adiluhung, kita harus kembali kepada nilai-nilai itu,” tuturnya.
Jro Penyarikan Duuran Ketut Eriadi Ariana menambahkan upacara melaspas ini rangkaian Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, dimana lokasinya berada di dasar kaldera yang diyakini asal-muasal pemukiman masyarakat leluhur Batur.
Lokasi tersebut menjadi pengingat bagi generasi penerus mengenai keberadaan awal Desa Adat Batur sebelum masyarakatnya berpindah, dan pada 3 Agustus 1926, masyarakat Batur akan melaksanakan napak tilas untuk mengenang sejarah perpindahan warga dari lokasi lama hingga ke Desa Bayung Gede.
“Nama Purwa Mandala Desa Adat Batur atau Desa Let Batur diberikan karena lokasi itu merupakan pusat permukiman masyarakat Batur pada masa lalu, sekaligus lokasi Pura Ulun Danu Batur terdahulu, disinilah persis asal-muasal keberadaan pemukiman warga terdahulu,” kata Jro Penyarikan Duuran.
Penelusuran sejarah lokasi tersebut dilakukan selama sekitar 12 tahun melalui berbagai metode dan diperkuat bukti-bukti autentik, termasuk dokumentasi foto peninggalan masa penjajahan Belanda.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.