Kunjungan Presiden ke Luar Negeri, Ternyata Paling Sering ke Sini

Internasional

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

13 September 2026 14:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tercatat melakukan 18 kunjungan ke 16 negara sejak kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025.

Perjalanan luar negeri Trump lebih banyak diarahkan ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Eropa, serta Asia. Sementara itu, Kanada menjadi satu-satunya negara di kawasan Amerika yang telah dikunjunginya.

Data tersebut dihimpun berdasarkan catatan Kantor Sekretaris Pers Gedung Putih. Data mencakup perjalanan sejak 20 Januari 2025 hingga Agustus 2026.

Dalam penghitungan tersebut, setiap negara yang disinggahi dicatat sebagai satu kunjungan. Dengan demikian, satu perjalanan internasional yang meliputi beberapa negara dapat menghasilkan lebih dari satu kunjungan.

Skotlandia dan Inggris juga dicatat sebagai dua kunjungan terpisah, meskipun keduanya merupakan bagian dari Britania Raya. Sementara itu, Roma tidak dihitung karena hanya menjadi tempat transit menuju Vatikan.

Timur Tengah Jadi Tujuan Utama

Sebanyak tujuh dari 18 kunjungan luar negeri Trump berlangsung di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Jumlah tersebut setara sekitar 39% dari seluruh kunjungannya selama periode tersebut.

Pada Mei 2025, Trump melakukan perjalanan ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Lawatan itu banyak diisi agenda investasi, perdagangan, energi, pertahanan, dan diplomasi regional.

Trump kemudian mengunjungi Israel dan Mesir pada Oktober 2025 berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Pada bulan yang sama, ia kembali mendatangi Qatar sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia.

Turki menjadi tujuan berikutnya di kawasan tersebut pada Juli 2026. Secara keseluruhan, Qatar menjadi satu-satunya negara Timur Tengah yang dikunjungi Trump sebanyak dua kali.

Eropa Dikunjungi Enam Kali

Trump mencatatkan enam kunjungan ke kawasan Eropa. Vatikan menjadi tujuan internasional pertamanya pada periode kedua ketika menghadiri pemakaman Paus Fransiskus pada April 2025.

Belanda kemudian dikunjungi untuk menghadiri pertemuan NATO pada Juni 2025. Sebulan berikutnya, Trump melakukan perjalanan selama empat hari ke Skotlandia.

Trump kembali ke Britania Raya pada September 2025 untuk melakukan kunjungan kenegaraan di Inggris. Dengan demikian, Britania Raya menjadi salah satu dari dua negara yang dikunjunginya lebih dari sekali, bersama Qatar.

Swiss masuk dalam daftar ketika Trump menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari 2026. Trump kemudian mendatangi Prancis pada Juni 2026.

Oktober Jadi Bulan Tersibuk

Oktober 2025 menjadi bulan dengan agenda perjalanan internasional terpadat bagi Trump. Dalam satu bulan, ia mengunjungi enam negara melalui dua rangkaian perjalanan.

Pada 13 Oktober 2025, Trump mendatangi Israel dan Mesir. Ia kemudian mengawali perjalanan berikutnya dengan mengunjungi Qatar pada 25 Oktober 2025.

trum

Dari Qatar, perjalanan dilanjutkan menuju Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan. Agenda tersebut mencakup pertemuan bilateral serta forum ekonomi dan diplomasi kawasan.

Secara keseluruhan, Trump melakukan empat kunjungan ke Asia. Selain Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan, ia mendatangi China pada Mei 2026 untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Indonesia belum masuk dalam daftar negara yang dikunjungi Trump selama periode keduanya.

Amerika Latin Belum Disambangi

Kanada menjadi satu-satunya negara di kawasan Amerika yang dikunjungi Trump hingga Agustus 2026. Perjalanan tersebut dilakukan untuk menghadiri pertemuan G7 pada Juni 2025.

Trump belum mengunjungi Meksiko maupun negara lain di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Kawasan Afrika Sub-Sahara juga belum masuk dalam agenda perjalanan internasionalnya.

Pola perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi langsung Trump sejauh ini lebih terkonsentrasi pada negara-negara Teluk, mitra strategis di Eropa, serta sejumlah kekuatan ekonomi utama di Asia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)