Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa saat ini pemerintah tengah memperhitungkan potensi kelebihan kuota atau konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi khususnya jenis Pertalite (RON 90).
Meningkatnya konsumsi BBM Pertalite imbas adanya peralihan dari BBM jenis Pertamax Series yang harganya tinggi akibat kenaikan harga minyak dunia.
"Kita lagi tetap menghitung potensi kelebihannya berapa. Memang kan waktu ketika terjadi kenaikan harga BBM dunia itu ada sebagian yang RON 92, temen rakyat yang lain masuk untuk mengisi ke RON 90 sehingga terjadi kenaikan tapi kenaikannya kita lagi menghitung," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Selasa (1/9/2026).
Meski mengakui adanya perpindahan konsumsi masyarakat jadi menggunakan BBM subsidi, pemerintah masih terus mendorong rencana pengetatan pengguna Pertalite. Bahlil tidak menyampingkan bahwa BBM subsidi seharusnya hanya dikonsumsi oleh masyarakat kurang mampu secara ekonomi.
Saat ini, pemerintah tengah memantapkan data masyarakat yang berhak untuk membeli BBM subsidi melalui kategorisasi desil.
"Itu masih diexercise karena apa kita pengen subsidi itu harus tepat sasaran. Nah salah satu cara untuk membuat tepat sasaran data kita harus valid. Nah desil-nya ini yang kita lagi mengecek terus jangan sampai harapan kita baik tapi ternyata dalam implementasinya karena datanya yang tidak valid membuat sesuatu yang tidak sesuai harapan kita," tandasnya.
Konsumsi Pertalite Melonjak
Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite mengalami lonjakan, terutama ketika harga BBM non subsidi, khususnya Pertamax, naik.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengungkapkan bahwa pergerakan konsumsi Pertalite menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang mengikuti pergerakan harga BBM non subsidi.
"Grafik atas ini menunjukkan adanya pergerakan harga BBM khususnya RON 90 ini Pertalite, ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM non-subsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," jelas Wahyudi dalam RDP bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, ketika harga BBM non subsidi naik, disparitas harga dengan Pertalite semakin lebar. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat melakukan pergeseran konsumsi dari BBM non subsidi ke BBM subsidi.
"Faktor yang menyebabkan peningkatan adalah pertama pastinya ini disparitas harga semakin lebar," ujarnya.
Sebaliknya, jika harga BBM Pertamax mengalami penurunan, konsumsi BBM Pertalite terpantau juga mengalami penurunan. Hal ini bisa terlihat pada Agustus 2026. Ketika harga BBM Pertamax turun per 1 Agustus 2026, terlihat konsumsi BBM Pertalite selama Agustus rata-rata juga menurun bila dibandingkan Juli 2026.
Namun memang, lanjutnya, meski harga Pertamax kini telah turun, disparitas harga dengan BBM subsidi masih cukup tinggi, sehingga konsumsi BBM Pertalite masih agak tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi harian normal sebelum adanya kenaikan harga Pertamax pada Juni 2026.
"Walaupun di akhir bulan Agustus ini harga untuk kategori Pertamax, seperti Pertamax, dan Pertamina Dex termasuk untuk Dex series itu terjadi penurunan, namun disparitas harganya ini masih cukup lebar, cukup tinggi, dan masyarakat banyak melakukan shifting penggunanya kepada BBM subsidi dan kompensasi negara," kata dia.
Berdasarkan bahan paparannya, rata-rata konsumsi harian Pertalite mencapai 82.760 kilo liter (kl) pada Juni 2026. Jumlah tersebut melonjak 6.965 kl atau 9,19% dibanding rata-rata konsumsi harian Pertalite pada hari normal yang mencapai 75.795 kl, sebelum adanya kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026.
Kemudian, pada Juli 2026 konsumsi rata-rata harian Pertalite naik lagi mencapai 85.589 kl. Angka tersebut melonjak 9,794 kl atau 12,92% dibanding rata-rata konsumsi harian pada hari normal 75.795 kl.
Lalu pada Agustus 2026, rata-rata konsumsi harian Pertalite agak turun menjadi 84.368 kl dibandingkan Juli 2026. Angka ini menunjukkan penurunan, sejalan dengan penurunan harga BBM Pertamax per 1 Agustus 2026.
Namun, angka tersebut tetap naik 8.573 kl atau 11,31% dibanding rata-rata konsumsi Pertalite pada hari normal atau sebelum harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026.
"Sementara pada bulan periode Agustus hingga saat ini agak sedikit menurun karena harga (Pertamax) juga ada terkoreksi semula Rp 16.250 (per liter) menjadi Rp 15.950 mengalami penurunan, sehingga konsumsinya untuk Pertamax juga turun," katanya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]