Living Epistemology sebagai Basis Pendidikan Holistik ala Gontor |Republika Online

Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jam empat pagi di Gontor, seorang santri bangun sebelum azan berkumandang. Ia mengantre kamar mandi, berjalan dari asrama menuju masjid dalam gelap, lalu duduk di barisan salat Subuh berjamaah. Tidak ada yang mengajarinya secara verbal apa itu disiplin. Ia hanya menjalaninya, berulang, setiap hari, selama bertahun-tahun; sampai disiplin itu bukan lagi aturan yang dipatuhi, melainkan sesuatu yang ia tahu, tanpa perlu lagi mengingat dari mana ia tahu.

Pertanyaan filosofis justru muncul dari titik ini: dari mana persisnya pengetahuan semacam itu berasal? Ia jelas bukan dari buku, sebab tidak ada bab tentang "cara bangun pagi" di kitab mana pun yang ia pelajari. Ia juga bukan sekadar kebiasaan, sebab kebiasaan bisa luntur begitu tekanan lingkungan hilang; sementara nilai yang benar-benar meresap justru bertahan lama setelah seseorang meninggalkan tempat asalnya. Ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi: pengetahuan yang tidak berhenti sebagai informasi, melainkan hidup dan terus bekerja dalam diri seseorang.

Prof. Dr. M. Amin Abdullah menyebut fenomena ini living epistemology dalam makalahnya, "Beyond Tradition and Modernity: Reinterpreting Gontor's Panca Jiwa as a Framework for Holistic Education", yang disampaikan di forum Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur. Argumen intinya sederhana, tetapi berat konsekuensinya: pendidikan holistik yang dibanggakan banyak orang—pendidikan yang katanya menyatukan otak, hati, dan tangan—tidak akan pernah benar-benar terjadi tanpa fondasi epistemologis semacam ini. Tanpa cara mengetahui yang hidup, "holistik" hanya menjadi kata sifat kosong yang ditempelkan pada kurikulum. Tulisan ini mencoba membaca ulang argumen tersebut dengan bahasa yang lebih lapang agar bisa dinikmati oleh kalangan umum.

Dua Cara Tahu

Untuk memahami apa yang dimaksud "living epistemology", ada baiknya kita mundur dulu ke pertanyaan yang lebih mendasar: apa itu tahu?

Filsuf Michael Polanyi membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata: rumus matematika, definisi kejujuran dalam kamus. Pengetahuan ini bisa dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain lewat ceramah atau buku tanpa banyak yang hilang dalam proses pemindahannya. Kedua, pengetahuan yang hanya bisa didapat lewat pengalaman langsung: bagaimana rasanya menepati janji meski berat, bagaimana menahan diri saat marah, bagaimana mengenali kapan seseorang sedang jujur meski kata-katanya meyakinkan. Polanyi menyebut jenis kedua ini tacit knowledge, pengetahuan diam-diam: kita tahu lebih banyak daripada yang bisa kita katakan.

Kesalahan yang sering terjadi dalam pendidikan modern adalah memperlakukan semua pengetahuan seolah-olah termasuk jenis pertama; seakan karakter, kejujuran, atau kepekaan sosial bisa diajarkan lewat definisi di papan tulis, lalu diujikan lewat soal pilihan ganda. Living epistemology, dalam kerangka yang ditawarkan Prof. Amin, adalah ketika sebuah lembaga pendidikan justru mengambil sikap sebaliknya: ia sengaja merancang seluruh lingkungannya supaya pengetahuan jenis kedua terus-menerus diproduksi; bukan lewat kata-kata, melainkan lewat kehidupan itu sendiri, jam demi jam, hari demi hari.

Di sinilah letak posisi filosofis yang perlu digarisbawahi: living epistemology bukan sekadar metode mengajar yang lebih menyenangkan, melainkan klaim tentang hakikat pengetahuan itu sendiri; bahwa sebagian ilmu yang paling penting bagi manusia tidak bisa diketahui lewat menghafal, tetapi hanya bisa diketahui lewat menjalani.

Klaim ini diperkuat oleh gagasan ta'dib dari Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Baginya, "beradab" bukan sekadar sopan santun, melainkan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang benar dan tepat; termasuk menempatkan diri sendiri di hadapan Allah, sesama, dan alam. Dengan kata lain, menjadi beradab itu sendiri adalah cara mengetahui, bukan sekadar hasil dari mengetahui. Ini memperkuat apa yang dikatakan Prof. Amin bahwa pendidikan di Gontor bergerak "melampaui sekadar tahu, menuju menjadi". Tahu, dalam kerangka ini, bukan titik akhir. Ia baru selesai ketika sudah menjelma menjadi cara seseorang bersikap.

Panca Jiwa sebagai Lima Jalur Mengetahui

Kalau living epistemology adalah pengetahuan yang dihidupkan lewat pengulangan yang bermakna, maka Panca Jiwa Gontor: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan, bisa dibaca bukan sekadar sebagai lima nilai moral yang baik untuk dimiliki, melainkan sebagai lima jalur berbeda menuju satu cara mengetahui yang sama.

Keikhlasan berfungsi sebagai semacam niat epistemik: penentu arah dari apa yang dicari lewat ilmu, bukan hanya apa yang ditemukan di akhir prosesnya. Prof. Amin mengaitkannya dengan teori spiritual leadership. Dalam teori ini, yang menggerakkan orang bukan insentif materi, melainkan makna. Seseorang yang belajar demi ijazah semata dan seseorang yang belajar sebagai pengabdian, pada akhirnya, tidak sedang mempelajari hal yang persis sama, meski soal ujiannya identik.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.