Mahasiswa HST desak PLN akhiri pemadaman listrik bergilir paling lambat 7 Agustus - ANTARA News Kalimantan Selatan

Barabai (ANTARA) - Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) mendesak PT PLN (Persero) segera mengakhiri pemadaman listrik bergilir dengan tenggat waktu hingga 7 Agustus 2026.

"Kami mendengar PLN agar segera mengakhiri pemadaman listrik bergilir karena banyak merugikan masyarakat," kata Ketua Umum HMI Cabang Barabai Amril di Barabai, Sabtu. 

Tuntutan tersebut disampaikan saat aksi damai di Kantor PLN UP3 Barabai, mahasiswa juga bahkan berjalan kaki dari Tugu Daun Mandingin menuju kantor PLN sambil membawa petisi dan menyuarakan lima tuntutan kepada perusahaan PLN itu.

Amril mengatakan aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari audiensi yang sebelumnya dilakukan dengan pihak PLN guna ingin memastikan persoalan pemadaman listrik agar mendapat penanganan serius.

Pihaknya juga meminta PLN bertanggung jawab atas kondisi yang terjadi saat ini, termasuk memberikan kompensasi kepada masyarakat dan bersikap transparan terkait penyebab serta penanganan pemadaman listrik. 

Mahasiswa juga mendesak PLN segera memperbaiki sistem kelistrikan agar pemadaman bergilir tidak kembali terjadi, serta meminta keterbukaan informasi mengenai penyebab gangguan, langkah penanganan, hingga target penyelesaiannya. 

Selain itu, pihaknya juga menuntut PLN bertanggung jawab atas kerugian masyarakat, baik material maupun immaterial, akibat pemadaman listrik dan meminta seluruh tindak lanjut diumumkan secara terbuka melalui papan pengumuman, media sosial, maupun kanal informasi resmi PLN.

Sementara itu, Manager PT PLN (Persero) UP3 Barabai Izbet Alighorky, mengapresiasi aksi mahasiswa yang berlangsung tertib dan kondusif, serta menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas pemadaman bergilir yang masih terjadi.

Menurut Izbet, pengaturan beban masih dilakukan karena pasokan daya pada sistem interkoneksi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah belum mampu memenuhi kebutuhan yang dipicu gangguan pada tiga unit pembangkit listrik.

Ia menyebut proses pemulihan terus berlangsung, satu dari tiga unit pembangkit yang mengalami gangguan kini telah kembali beroperasi, sehingga durasi pemadaman mulai berkurang dari sebelumnya lima hingga enam jam menjadi sekitar tiga hingga empat jam.

"Tuntutan dari rekan-rekan mahasiswa sudah kami terima. Kami akan pelajari dan berusaha memenuhi semuanya. Harapan kami sama, semoga pada minggu awal Agustus kondisi kembali normal sehingga tidak ada lagi pemadaman," ujarnya.

Pewarta: Muhammad Hidayatullah
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.