Memahami Day Trading, dari Riset Pasar hingga Efisiensi Biaya |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas day trading dalam pasar finansial global diibaratkan seperti menavigasi kendaraan di kota asing saat jam sibuk, di mana pelaku pasar harus selalu siap menghadapi perubahan arah dan kepadatan lalu lintas pasar. Peluang investasi dapat muncul dan lenyap hanya dalam hitungan detik sehingga kecepatan reaksi semata tidak lagi cukup untuk meraih hasil optimal. Investor ritel dituntut untuk memperluas pemahaman pasar serta memanfaatkan sarana analitis yang tepat guna mengidentifikasi dan menilai berbagai potensi setup transaksi secara terukur.

Financial Market Analyst di ELEV8 Kar Yong Ang menjelaskan day trading berfokus pada pembukaan dan penutupan posisi transaksi dalam satu hari perdagangan yang sama guna menghindari paparan risiko menginap (overnight risk). "Trader biasanya menggunakan timeframe yang lebih pendek untuk mengidentifikasi peluang jangka pendek. Akibatnya, mereka mungkin membuka puluhan, bahkan ratusan trade dengan leverage, menahannya hanya beberapa menit atau detik, dan menutup posisi bahkan jika keuntungannya minimal," ungkap Kar Yong Ang dalam siaran persnya, Jumat (25/9/2026).

Dari sudut pandang efisiensi ekonomi, pemilihan instrumen pasar yang memiliki likuiditas tinggi seperti pasangan mata uang utama (major currency pairs), saham berkapitalisasi besar, dan indeks futures menjadi krusial karena menawarkan spread bid-ask yang lebih ketat. Kar Yong Ang mencontohkan, jika sebuah saham dibeli seharga 100 dolar AS dan dijual seharga 99,95 dolar AS, maka selisih spread-nya adalah 0,05 dolar AS.

"Spread yang lebih sempit umumnya berarti biaya transaksi lebih rendah, yang dapat memberikan perbedaan signifikan ketika seorang pengguna mengeksekusi ratusan trade," jelasnya.

Meski demikian, kalkulasi profitabilitas transaksi tidak hanya ditentukan oleh spread, tetapi juga dipengaruhi oleh komponen biaya bursa, komisi broker, serta risiko slippage atau perbedaan antara harga eksekusi aktual dengan harga yang diharapkan saat pesanan dipasang.

Sebagai gambaran perhitungan ekonomis, seorang pelaku pasar yang membeli 1.000 saham pada harga 100 dolar AS dan menjualnya di harga 101 dolar AS akan menghasilkan keuntungan kotor sebesar 1.000 dolar AS. Namun, setelah memperhitungkan biaya spread, komisi sebesar 0,1 persen untuk beli dan jual, biaya bursa sebesar 20 dolar AS, serta slippage 0,05 dolar AS per saham, hasil bersih yang diterima berkurang menjadi kurang dari 800 dolar AS.

Selain beban biaya operasional transaksi, pengelolaan risiko kerugian (risk management) menjadi pilar utama dalam menjaga kelangsungan modal. Efek matematis dari penurunan nilai aset menunjukkan pemulihan kerugian membutuhkan persentase gain yang lebih besar seiring bertambahnya nilai akumulasi kerugian.

"Penurunan 10 persen dalam akun beraset 10.000 dolar AS menyisakan 9.000 dolar AS, sehingga trader perlu meraih profit 11,1 persen hanya untuk kembali ke angka 10.000 dolar AS. Sementara itu, penurunan 50 persen menyisakan 5.000 dolar AS, yang membutuhkan profit hingga 100 persen untuk memulihkan modal asli. Oleh karena itu, prioritas utama bagi trader adalah menjaga kerugian dalam batas manajemen risiko yang jelas," ujae Kar Yong Ang.