Jakarta - Menara Air Balai Yasa Manggarai di Jakarta Selatan merupakan bangunan bersejarah peninggalan Hindia Belanda yang dibangun pada 1918 dan masih berdiri kokoh.
Sejak 2025, Menara Air Manggarai telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Keberadaannya kini turut dikembangkan sebagai destinasi eduwisata sejarah yang memperkenalkan jejak perkembangan perkeretaapian dan arsitektur masa lalu di Jakarta.
Menara air tersebut dibangun oleh perusahaan kereta api Staatsspoorwegen untuk mendukung kebutuhan air di kawasan Balai Yasa Manggarai. Bangunan setinggi sekitar 35 meter ini memiliki dua tangki air yang berada di dalam menara.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, bangunan menara masih menunjukkan bentuk arsitektur yang khas. Menara tersebut dirancang oleh arsitek Belanda Pieter Adriaan Jacobus atau P.A.J. Moojen.
Moojen dikenal sebagai salah satu arsitek yang turut memperkenalkan gagasan modernisme dalam arsitektur di Hindia Belanda. Selain Menara Air Manggarai, sejumlah karya yang dikaitkan dengannya masih dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.
Gaya arsitektur menara air tersebut memperlihatkan pengaruh Nieuwe Zakelijkheid yang menekankan bentuk sederhana, fungsional, dan minim ornamen.
Karakter tersebut menjadikan Menara Air Manggarai tidak hanya penting secara sejarah, tetapi juga menarik dari sisi arsitektur. Kini, Menara Air Manggarai menjadi bagian dari warisan sejarah Jakarta yang terus dijaga.
Sistem pengaliran air pada menara memanfaatkan prinsip bejana berhubungan. Saat ini, kebutuhan air diperoleh dari sumur bor yang digunakan untuk mengisi dua tangki dengan kapasitas masing-masing mencapai sekitar 50 ribu liter.
Keberadaannya menjadi pengingat perjalanan panjang perkeretaapian sekaligus saksi perkembangan kota, dengan bangunan karya P.A.J. Moojen yang tetap berdiri di tengah kawasan Manggarai.