Mendag Budi Dorong BRICS Hadapi Fragmentasi Perdagangan Global

Pesan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat menghadiri BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) yang berlangsung di Jaipur, India.

Baca Juga: Usai Raih BRICS Award 2025, Buku Puisi Esai Denny JA Akan Diterjemahkan ke 35 Bahasa

Dalam pidatonya, Budi menilai dunia saat ini sedang menghadapi persimpangan penting. Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik, perang tarif, hingga berbagai krisis internasional telah membuat banyak negara mulai mengedepankan kepentingan nasional melalui kebijakan perdagangan yang semakin proteksionis.

"Pertanyaannya adalah apakah kita akan beradaptasi dengan membangun tembok yang lebih tinggi, atau justru menemukan cara baru untuk berkolaborasi. Momen ini penting bagi BRICS untuk mendorong sinergi dan kesejahteraan bersama. Indonesia menantikan kolaborasi dengan seluruh mitranya dengan mengedepankan keterbukaan, rasa percaya diri, dan komitmen yang solid dalam menjalin kemitraan," kata Budi Santoso dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, selama dua dekade terakhir dunia telah menghadapi berbagai krisis, mulai dari gejolak keuangan, pandemi, krisis energi hingga konflik geopolitik. Kondisi tersebut memperlihatkan semakin rapuhnya integrasi ekonomi global yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan perdagangan internasional.

Di sisi lain, sejumlah negara besar mulai memanfaatkan tarif, rantai pasok, hingga infrastruktur keuangan sebagai instrumen tekanan ekonomi. Situasi tersebut dinilai turut memperburuk fragmentasi perdagangan dunia.

Budi mengatakan tantangan terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang hingga kini belum terselesaikan juga membuat banyak negara memilih memperkuat kebijakan perlindungan strategis untuk mengamankan pasokan energi, pangan, mineral kritis, serta rantai pasok nasional.

Meski langkah tersebut dinilai sebagai respons yang wajar, Indonesia mengingatkan adanya risiko yang lebih besar apabila setiap negara semakin mengedepankan kebijakan yang tertutup.

"Kita harus tetap melihat risiko di balik itu. Dunia bisa menjadi semakin terpecah, rapuh, dan sulit menghadapi tantangan bersama," ujarnya.

Karena itu, Indonesia mengajak BRICS tidak hanya menjadi forum dialog, tetapi juga memperkuat kerja sama konkret di bidang perdagangan, investasi, serta pembangunan rantai pasok yang lebih tangguh.

Baca Juga: Menperin Agus: BRICS Jalan Baru Indonesia Perluas Kemitraan Industri Global

Di tengah ketidakpastian global tersebut, Budi menegaskan Indonesia tetap optimistis terhadap prospek ekonominya. Optimisme itu ditopang oleh besarnya pasar domestik, bonus demografi melalui tenaga kerja muda yang produktif, serta ketersediaan sumber daya alam yang melimpah.

Pemerintah juga terus mendorong program hilirisasi industri, memperkuat ketahanan pangan, serta memperluas akses pasar ekspor melalui penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara mitra.

Menurut Budi, kombinasi antara penguatan kerja sama multilateral dan implementasi perjanjian dagang bilateral maupun regional menjadi strategi Indonesia untuk menjaga daya saing perdagangan nasional.

"Bagi Indonesia, ini berarti memadukan kerja sama multilateral yang kuat dengan kemitraan praktis di bidang perdagangan untuk menghasilkan capaian yang nyata. Bersama-sama, kami dapat membangun jaringan perdagangan, investasi, dan ekonomi yang tangguh sehingga mampu menghadapi tantangan dan menyambut peluang di masa depan," katanya.

Pertemuan Menteri Perdagangan BRICS tahun ini dibuka oleh Union Minister of State for Ministry of Commerce & Industry and Ministry of Electronics & Information Technology India, Jitin Prasada.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tema Presidensi BRICS India 2026, Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability, mencerminkan komitmen bersama untuk membangun sistem perdagangan yang lebih tangguh, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Menurut Jitin, manfaat perdagangan harus dapat dirasakan secara lebih luas, terutama oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengusaha perempuan, serta generasi muda.

Senada dengan Indonesia, Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal juga menilai BRICS memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga stabilitas perdagangan internasional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Dirinya menekankan empat prioritas utama yang akan didorong negara-negara anggota BRICS, yakni memperkuat sistem perdagangan multilateral dengan WTO sebagai pilar utama, membangun rantai nilai global yang lebih tangguh, meningkatkan daya saing UMKM di pasar internasional, serta memperluas akses terhadap perdagangan digital dan pembiayaan.

"Hari ini, kita mengedepankan empat prioritas, yaitu memperkuat sistem perdagangan multilateral dengan Organisasi Perdagangan Dunia sebagai inti, membangun rantai nilai global yang tangguh, mendorong UMKM agar semakin berdaya saing di pasar internasional, serta memperluas akses terhadap perdagangan, pembiayaan, dan layanan digital," ujar Piyush Goyal.

Melalui forum tersebut, Indonesia berharap kerja sama BRICS dapat menghasilkan langkah konkret untuk menjaga arus perdagangan tetap terbuka di tengah meningkatnya proteksionisme global.

Pemerintah juga menilai kolaborasi yang lebih erat antaranggota BRICS dapat menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi dunia sekaligus membuka peluang ekspor dan investasi yang lebih besar bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.