Mengapa kapal bisa hilang stabilitas saat menghadapi gelombang besar?

Jakarta (ANTARA) - Insiden kapal di perairan Indonesia kembali menjadi perhatian setelah KM Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin mengalami kecelakaan di Laut Jawa. Kapal tersebut sebelumnya dilaporkan menghadapi cuaca buruk dan nakhoda sempat melaporkan kapal dalam kondisi miring sebelum akhirnya kehilangan kontak. Dalam perkembangan terbaru, tim SAR masih melakukan pencarian terhadap penumpang yang belum ditemukan. Laporan Reuters menyebut gelombang di lokasi kejadian dapat mencapai sekitar tiga meter ketika kapal mengalami kondisi terbalik.

Pada saat yang hampir bersamaan, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga masih berlangsung. Memasuki hari ketujuh, Basarnas mengerahkan 18 kapal dan satu helikopter untuk memperluas wilayah pencarian hingga 6.649 mil laut persegi.

Dua peristiwa tersebut kembali memperlihatkan bahwa kondisi laut bisa berubah dengan cepat. Salah satu risiko yang perlu dipahami adalah hilangnya stabilitas kapal ketika berhadapan dengan gelombang besar.

Lantas, mengapa kapal yang ukurannya sangat besar bisa sampai miring, terbalik, bahkan tenggelam ketika dihantam gelombang?

Secara sederhana, stabilitas adalah kemampuan kapal untuk tetap berada dalam posisi seimbang ketika mendapatkan gaya dari luar, termasuk akibat gelombang, angin, arus, atau pergerakan muatan.

Kapal tidak harus selalu berada dalam posisi benar-benar tegak. Ketika terkena gelombang dari samping, misalnya, badan kapal dapat miring untuk sementara. Selama kapal masih memiliki kemampuan untuk kembali menuju posisi semula, kondisi tersebut masih berada dalam batas stabil.

Baca juga: Kapal tenggelam di tengah laut? Ini yang harus Anda lakukan

Masalah muncul ketika gaya yang membuat kapal miring lebih besar daripada kemampuan kapal untuk mengembalikan keseimbangannya.

Dalam ilmu perkapalan, kemampuan tersebut berkaitan dengan hubungan antara pusat gravitasi kapal, pusat apung, serta bentuk lambung kapal. Perubahan posisi muatan juga dapat mengubah kondisi tersebut.

Gelombang laut tidak hanya membuat kapal naik dan turun. Ketika gelombang datang dari arah tertentu, terutama dari samping, tekanan air dapat mendorong badan kapal sehingga kapal mengalami kemiringan.

Semakin besar gelombang dan semakin kuat gaya yang diterima kapal, semakin besar pula sudut kemiringannya.

Situasi menjadi lebih berisiko ketika kapal berada pada posisi yang membuat gelombang terus menerus mendorong sisi yang sama atau ketika gelombang datang dengan pola yang tidak menguntungkan bagi gerakan kapal.

Karena itu, ukuran kapal saja tidak bisa menjadi jaminan bahwa kapal akan selalu aman menghadapi gelombang besar.

Muatan yang bergeser juga bisa mengganggu keseimbangan

Stabilitas kapal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lambung. Distribusi berat di dalam kapal juga sangat penting.

Bayangkan sebuah kotak yang berisi benda-benda berat. Ketika benda-benda tersebut berpindah ke satu sisi, kotak akan lebih mudah miring. Prinsip sederhananya juga berlaku pada kapal.

Jika muatan bergeser akibat gerakan kapal dan gelombang, titik berat kapal dapat berubah. Kondisi ini bisa membuat kapal semakin sulit kembali ke posisi tegak.

Untuk kapal pengangkut kendaraan, misalnya, pengaturan dan pengamanan kendaraan menjadi bagian penting dari keselamatan. Muatan yang tidak terdistribusi dengan baik dapat memberikan pengaruh terhadap keseimbangan kapal.

Baca juga: Mengenal KMP Virgo Transport 8 yang kecelakaan di Laut Jawa

Air yang masuk ke kapal juga dapat memperparah keadaan

Ketika kapal sudah mengalami kemiringan besar, air laut dapat masuk melalui bagian yang terbuka atau rusak.

Masuknya air bukan sekadar membuat kapal menjadi lebih berat. Air yang bergerak bebas di dalam ruangan kapal juga dapat memengaruhi distribusi berat dan mengurangi kemampuan kapal untuk kembali tegak.

Fenomena ini dikenal dalam ilmu stabilitas kapal sebagai free surface effect.

Sederhananya, air yang bergerak dari satu sisi ke sisi lain dapat membuat titik berat efektif kapal berubah ketika kapal bergoyang. Akibatnya, kapal dapat menjadi semakin tidak stabil.

Gelombang dari arah yang salah bisa menjadi masalah

Kapal dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi laut, tetapi arah datangnya gelombang tetap menjadi faktor penting.

Gelombang yang datang dari depan atau belakang akan memberikan respons gerakan yang berbeda dibandingkan gelombang yang datang dari samping.

Ketika gelombang menghantam sisi kapal, kapal dapat mengalami gerakan menggelinding atau rolling. Jika gerakannya semakin besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kapal kehilangan stabilitas.

Dalam kondisi laut yang buruk, nakhoda dan awak kapal perlu mempertimbangkan arah gelombang, kecepatan kapal, kondisi muatan, serta kemampuan kapal dalam menghadapi situasi tersebut.

Mengapa kapal bisa sampai terbalik?

Kapal dapat terbalik ketika kemiringannya sudah terlalu besar dan gaya yang seharusnya mengembalikan kapal ke posisi tegak tidak lagi mampu mengimbanginya.

Pada tahap tertentu, kapal dapat melewati batas stabilitasnya. Setelah itu, kapal bisa terus miring hingga akhirnya terbalik.

Proses tersebut biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Kondisi gelombang, angin, distribusi muatan, masuknya air, karakteristik kapal, serta keputusan operasional dapat saling berkaitan.

Karena itu, penyebab pasti sebuah kapal terbalik harus ditentukan melalui pemeriksaan dan investigasi terhadap kondisi kapal serta situasi ketika kecelakaan terjadi.

Baca juga: KM Virgo Transport 8 bergeser 1,6 mil laut dalam kondisi terbalik

Apakah kapal besar pasti lebih aman dari gelombang?

Belum tentu.

Kapal yang lebih besar memang umumnya memiliki karakteristik berbeda dalam menghadapi gelombang dibandingkan kapal kecil. Namun, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran.

Desain kapal, kondisi lambung, distribusi muatan, pusat gravitasi, kondisi cuaca, tinggi gelombang, arah gelombang, serta cara kapal dioperasikan semuanya berpengaruh.

Itulah sebabnya kapal yang memiliki ukuran besar sekalipun tetap memiliki batas kondisi laut yang dapat dihadapinya.

Peristiwa KM Virgo Transport 8 menunjukkan bagaimana cuaca buruk dapat menjadi bagian penting dalam sebuah kecelakaan laut. Berdasarkan laporan awal, nakhoda kapal tersebut sudah melaporkan kondisi cuaca buruk sebelum kemudian melaporkan kapal dalam keadaan miring.

Dalam perkembangan operasi SAR, kondisi laut yang masih berombak dan angin kencang juga menjadi tantangan bagi tim penyelamat.

Namun, kondisi tersebut belum otomatis berarti gelombang menjadi satu-satunya penyebab kecelakaan. Penyebab pasti tetap membutuhkan investigasi menyeluruh.

Hal yang sama berlaku untuk berbagai kecelakaan kapal lainnya. Istilah seperti "dihantam gelombang" menggambarkan kondisi yang terjadi, tetapi belum tentu menjelaskan seluruh rangkaian penyebab kapal kehilangan stabilitas.

Pada akhirnya, stabilitas kapal merupakan hasil dari banyak faktor yang saling berkaitan. Gelombang besar dapat memberikan gaya yang sangat kuat, tetapi bagaimana kapal merespons gaya tersebut juga dipengaruhi desain, muatan, distribusi berat, kondisi kapal, serta cara pengoperasiannya.

Karena itu, ketika cuaca laut mulai memburuk, keputusan operasional dan kesiapan menghadapi kondisi tersebut menjadi sama pentingnya dengan kekuatan kapal itu sendiri, demikian merangkum informasi yang diperoleh Antara dari para ahli.

Baca juga: Garibaldi akan tampil dalam parade kapal perang di Teluk Jakarta

Baca juga: ABK ungkap KM Virgo tenggelam cepat sebelum lima menit saat kecelakaan

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.