Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan semua jajaran TNI dari ketiga matranya sudah mampu menjawab tantangan tugas dalam memelihara, menjaga, serta mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menhan ingin latihan TNI dalam berbagai tingkatan dan skalanya diselenggarakan lebih sering.
Ia menyatakan hal itu di lokasi latihan Korps Marinir TNI AL di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu, seusai melihat dari dekat Latihan Terintegrasi TNI 2026 yang melibatkan ketiga matra TNI, dengan beberapa skenario latihan yang memperagakan berbagai pergelaran kekuatan personel TNI dan sistem persenjataannya.
Turut hadir dalam kunjungan itu Ketua Komisi I DPR Utut Adianto, dan Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Muhamma Ali, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Tonny Harjono, serta sejumlah besar pejabat teras TNI.
"Saya sudah melihat langsung, sudah mendapatkan laporan dari para Kepala Staf Angkatan TNI dan Panglima TNI, juga dari para komandan lapangan tentang kesiapan TNI dalam menjalankan tugas. Dari yang saya lihat langsung di lapangan, sudah meyakinkan saya selaku Menteri Pertahanan untuk melaporkan kepada Presiden bahwa TNI sudah mampu menjawab tantangan tugas dalam memelihara dan menjaga serta mengamankan kedaulatan NKRI," katanya.
Beberapa hal yang sudah ditentukan TNI dalam latihan ini, kata Menhan, sudah pernah menjadi pengalaman beberapa tahun yang lalu bahwa TNI masih mengalami kekurangan, di antaranya soal pemenuhan amunisi dari kaliber kecil hingga besar, roket, rudal, dan bom.
"Pada hari ini saya sudah melihat langsung kekuatan tempur TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, baik dari alutsista, walaupun dari kualitas pengawakan dan dari keperluan amunisi dari yang terkecil hingga terbesar sudah dipenuhi," katanya.
Sasaran yang menjadi target latihan sebagai sasaran tugas dan bagaimana TNI menyelenggarakan tugas itu, sudah dibuktikan dalam realita latihan yang baru saja dilaksanakan.
"Jadi, revitalisasi pertahanan negara, khususnya pengeluaran kekuatan TNI pada 2026, mulai bangkit dan kita tunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa misi utama yang dibebankan rakyat Indonesia kepada Presiden selaku mandataris bisa dipertanggungjawabkan oleh sistem pertahanan negara yang instrumennya adalah TNI," kata Sjafrie.
Menhan menambahkan beberapa yang menjadi tantangan TNI sekarang adalah program latihan, baik terintegrasi maupun latihan pembinaan di masing-masing angkatan, tidak boleh dilaksanakan hanya satu kali satu tahun.
Akan tetapi, untuk mendapatkan confidence building dari semua prajurit maka latihan itu akan dilakukan dua atau tiga kali dalam satu tahun.
"Ini untuk menunjukkan bahwa antara prajurit, peralatan, dan dukungan itu menjadi satu," katanya.
Oleh karena itu, kehadiran anggota DPR bersama para wakil ketua sangat diperlukan untuk mendukung kemampuan anggaran yang dibutuhkan TNI untuk berlatih dan untuk menunjukkan kemampuan nyatanya menjaga kelangsungan hidup NKRI.
"Kita juga akan melakukan modifikasi operasional terhadap apa yang menjadi hasil produksi di dalam negeri untuk kita tunjukkan kepada rakyat bahwa kita mampu untuk menunjukkan kemampuan industri pertahanan di dalam pembangunan kekuatan pertahanan negara," katanya.
Sebagai contoh, kata Menhan, saat ini Indonesia mempunyai unmanned survival vehicle yang kata pergaulannya disebut pesawat kamikaze.
"Ini akan kita operasikan di lapangan dan saya sudah berkoordinasi dengan Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan TNI," ujarnya
"Ini akan kita gunakan untuk menghadapi para penyelundup-penyelundup ilegal yang menerobos perbatasan dengan cara yang tidak sah," kata Sjafrie menambahkan.
Pewarta: Ade P Marboen
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.