Batam (ANTARA) - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan latihan terintegrasi dan pembinaan TNI dilaksanakan dua hingga tiga kali dalam setahun untuk memperkuat kesiapan personel, alat utama sistem senjata (alutsista), dan dukungan operasi.
Sjafrie menyampaikan usulan tersebut usai menyaksikan latihan terintegrasi tiga matra TNI di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Rabu.
"Program latihan baik terintegrasi maupun latihan pembinaan di masing-masing angkatan tidak boleh dilaksanakan hanya satu kali dalam satu tahun. Latihan ini akan kita lakukan dua atau tiga kali dalam satu tahun," katanya.
Menurut Sjafrie, peningkatan frekuensi latihan diperlukan agar kesiapan prajurit, alutsista, dan dukungan logistik tetap terjaga dalam menghadapi berbagai tantangan pertahanan negara.
Ia mengatakan pelaksanaan latihan yang lebih intensif memerlukan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, kehadiran pimpinan Komisi I DPR RI dalam kegiatan tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan pembiayaan latihan TNI.
Selain meningkatkan frekuensi latihan, Kementerian Pertahanan juga akan mengoptimalkan pemanfaatan produk industri pertahanan dalam negeri, termasuk kendaraan tanpa awak untuk pengawasan (unmanned surveillance vehicle) yang direncanakan digunakan dalam pengamanan wilayah perbatasan.
Menurut Sjafrie, teknologi tersebut akan mendukung TNI dalam mendeteksi berbagai aktivitas ilegal di wilayah darat maupun laut sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional.
Ia menegaskan pengembangan industri pertahanan dalam negeri merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah dalam memperkuat kemampuan pertahanan sekaligus mendukung kemandirian alutsista nasional.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menhan usulkan latihan TNI digelar dua hingga tiga kali setahun
Pewarta: Amandine Nadja
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.