Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Era Comparison Culture - ANTARA News Jawa Barat

Bandung (ANTARA) - Media Sosial menjadi ruang utama bagi seseorang untuk bertukar informasi. Namun, tanpa disadari ketika membuka beranda, berbagai kehidupan seseorang terlihat sempurna sehingga memicu perasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain (Comparison Culture).

Beberapa orang mengambil gambar yang sempurna untuk kebutuhan sosial medianya, seperti menunjukkan gaya hidup, pencapaian atau hubungan sosial yang kian menjadi tuntutan standar hidup remaja masa kini.

Meski demikian menurut artikel yang ditulis oleh Universitas Negeri Surabaya mengatakan apa yang di perlihatkan media sosial itu merupakan sebuah ilusi yang mulai ditinggalkan dan mulai bergeser pada tren yang berarah pada penerimaan kekurangan, kesehatan mental, dan keaslian diri.

Menurut Alodokter yang tulis di situs Kementerian Kesehatan RI Untuk proses menjalani hidup yang lebih sehat dan bermakna yaitu dengan cara Afirmasi diri yang positif seperti mengatakan "aku bahagia", Hal itu bisa membantu pola pikir lebih sehat dan menyingkirkan pikiran negatif.

Selain itu, untuk menghindari minder dari pencapaian orang lain menurut Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis yaitu fokus pada apa yang sudah kamu capai, dan gunakan positif self talk alih-alih mengatakan "aku tak sebaik dia" menjadi " aku sedang berproses", lalu kurangi waktu scrolling media. 

Kemudian menurut Dr. Christina Hibbert dari Amerika mengatakan bahwa sebagian besar kita menjadi tidak asli karena takut orang lain tidak menyukai kita.

Di sisi lain, kita hidup bukan untuk memuaskan orang lain, mulai luangkan waktu untuk mengenal diri sendiri dan membuka diri agar terhubung dengan orang lain untuk kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.

Pewarta: Zahra
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.