Menko Pangan dorong Banyuwangi Hijau jadi model nasional kelola sampah
Jumat, 21 Agustus 2026 09:10 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam kunjungan dan kegiatan serah terima kendaraan operasional pendukung pengelolaan sampah Program Banyuwangi Hijau di TPS 3R Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Pangan)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong Program Banyuwangi Hijau menjadi percontohan nasional pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan ekonomi sirkular.
“Jadi, Banyuwangi ini termasuk yang pengolahan sampahnya terbaik. Maka dari itu, banyak penyerahan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Austria, Norwegia, dan United Arab Emirates (UAE), karena dianggap pengelolaan sampahnya termasuk yang bagus,” kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.
Menko Zulhas mengungkapkan hal tersebut saat mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Balak di Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (20/8), sekaligus menyaksikan serah terima aset pendukung persampahan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, serta mitra Program Banyuwangi Hijau.
Program Banyuwangi Hijau mengintegrasikan penanganan sampah mulai dari rumah tangga hingga fasilitas pengolahan dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Program tersebut berkembang dari Proyek STOP yang telah dijalankan di Kecamatan Muncar sejak 2018 dan kemudian mendapat dukungan sejumlah mitra internasional.
Pada fase pertama dan kedua, Austria dan Norwegia mendukung pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah, termasuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Balak yang memiliki kapasitas hingga 80 ton per hari.
Memasuki fase ketiga pada 2024, dukungan pendanaan dari Uni Emirat Arab (UAE) diarahkan untuk memperkuat sistem dari hulu hingga hilir, mencakup edukasi masyarakat, pemilahan di sumber, penyediaan sarana, pengangkutan terpilah, serta pengolahan sampah.
Penguatan layanan persampahan juga ditandai dengan penyerahan 44 kendaraan operasional yang terdiri atas 21 kendaraan roda tiga, 16 mobil pikap, dua truk arm roll, dan lima truk kontainer.
Armada tersebut akan digunakan untuk mendukung pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah warga menuju fasilitas pengolahan sehingga material yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali dan jumlah residu dapat dikurangi.
Model Banyuwangi Hijau menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali.
Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai sesuai diterapkan di daerah dengan timbulan sampah kecil hingga menengah.
Sementara itu, untuk wilayah perkotaan dengan timbulan sampah besar, pemerintah mendorong penggunaan teknologi berskala lebih tinggi, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) bagi kota dengan timbulan di atas 1.000 ton per hari.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan bahwa melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan, Banyuwangi ditargetkan mencapai cakupan layanan persampahan 100 persen pada 2028 atau lebih cepat.
Pemerintah berharap pencapaian tersebut dapat memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu percontohan nasional dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis ekonomi sirkular.
Pewarta : Aria Ananda
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026