Merawat ingatan pengabdian TNI AU untuk bangsa Indonesia

Kalau untuk revitalisasi, setiap hari kami berjalan terus. Setiap hari kami betulkan terus. Setiap hari kami benahi terus

Bantul, Yogyakarta (ANTARA) - Jejak langkah sejarah penerbangan kepresidenan Indonesia kini menemukan rumah barunya. Sebuah pesawat Fokker F-28 bernomor ekor A-2801 yang menjadi saksi bisu perjalanan dinas Presiden ke-2 RI Soeharto, resmi menjadi penghuni baru Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla) di Bantul, Yogyakarta.

Rencana penambahan Fokker F-28 sebagai koleksi Muspusdirla itu sebelumnya telah diungkapkan oleh Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Kolonel Kal Christian Tri Aryono. dalam wawancara pencegatan (doorstop) pada 11 Februari 2026.

"Untuk ke depannya yang kami tunggu, yang paling depan itu adalah Fokker F-28," kata Christian ketika itu.

Kehadiran pesawat bernomor ekor A-2801 tersebut akhirnya terealisasi pada pertengahan 2026.

Pesawat VVIP tersebut tiba di Muspusdirla pada 29 Juni 2026, dan diresmikan sebagai koleksi museum oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono pada 30 Juli 2026.

Tambahan pesawat yang sempat dioperasikan di Skuadron Udara VIP 17 Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma tersebut semakin mengukuhkan peran vital Muspusdirla dalam merawat ingatan pengabdian TNI AU untuk bangsa Indonesia.

Baca juga: Kamuspusdirla ungkap tambahan koleksi berupa eks pesawat kepresidenan

Merawat perjalanan TNI AU untuk Indonesia

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi pernah mengatakan bahwa Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla) merupakan tempat strategis untuk mengenang jasa para pahlawan TNI AU.

"Muspusdirla adalah tempat yang strategis untuk mengenang jasa-jasa pahlawan Angkatan Udara. Oleh karena itu, terus tingkatkan dan modernkan agar kita tidak melupakan sejarah," kata Wakil KSAU saat mengunjungi museum tersebut pada 9 Oktober 2025.

Pesawat Fokker F-28 dengan nomor ekor A-2801 saat tiba di Muspusdirla, Bantul, Yogyakarta, Senin (29/6/2026). (ANTARA/Instagram/@museumdirgantara)

Namun, lebih dari itu, Muspusdirla juga merekam dan merawat perjalanan TNI AU dalam mengabdi kepada Indonesia. Museum ini tidak hanya mengisahkan perjalanan seorang tokoh, tetapi juga kiprah sebuah kesatuan yang menjadi kebanggaan bangsa.

Sebagian rekam jejak itu terlihat dari belasan alat utama sistem senjata (alutsista) yang pernah digunakan para prajurit TNI AU dan dipajang di halaman depan museum.

Salah satunya adalah helikopter SM-1 yang dioperasikan TNI AU pada era 1950-an. Saat itu, helikopter tersebut digunakan sebagai helikopter ringan untuk angkut khusus sekaligus latihan.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.