Jumat, 17 Juli 2026 - 17:51 WIB
Jakarta, VIVA – Perjalanan sehari-hari kerap menjadi salah satu pemicu stres, terutama ketika harus menghadapi kemacetan, ketidakpastian waktu tempuh, hingga kondisi transportasi yang kurang nyaman. Tak heran jika banyak orang merasa lebih lelah secara mental setelah bepergian, meski aktivitas yang dijalani tidak terlalu berat.
Baca Juga
Dalam ilmu psikologi lingkungan (environmental psychology), kondisi perjalanan memiliki pengaruh terhadap suasana hati, tingkat kecemasan, hingga kemampuan seseorang mengendalikan stres. Semakin mudah dan dapat diprediksi sebuah perjalanan, semakin kecil pula beban mental yang dirasakan penumpang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Transportasi berbasis rel, seperti kereta api, menjadi salah satu moda yang dinilai mampu memberikan pengalaman perjalanan yang lebih tenang. Jadwal yang relatif pasti, minim hambatan lalu lintas, serta ruang yang lebih tertata membuat penumpang tidak perlu terus-menerus menghadapi ketidakpastian selama perjalanan.
Baca Juga
Faktor lain yang juga berperan adalah rasa aman dan kemudahan mengakses layanan. Ketika penumpang tidak perlu khawatir mencari jalur masuk, naik ke kereta, atau berpindah peron, otak tidak bekerja terlalu keras untuk mengantisipasi berbagai hambatan yang bisa memicu stres.
Karena itu, konsep transportasi modern kini tidak lagi hanya mengejar kecepatan atau kapasitas angkut. Banyak operator mulai menerapkan prinsip universal design, yakni merancang fasilitas agar dapat digunakan oleh semua orang, termasuk lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, hingga orang tua yang membawa anak.
Baca Juga
Fasilitas seperti guiding block bagi penyandang tunanetra, portable ramp untuk pengguna kursi roda, toilet yang ramah disabilitas, ruang laktasi, hingga petugas pendamping merupakan bagian dari pendekatan tersebut. Keberadaannya tidak hanya meningkatkan aksesibilitas, tetapi juga membantu mengurangi kecemasan selama perjalanan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Akademisi dan Pengamat Transportasi Darat, Djoko Setijowarno, menilai inovasi layanan menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik. Menurutnya, aspek inklusivitas kini menjadi salah satu indikator kemajuan layanan karena mampu memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.
"Jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju, layanan transportasi publik Indonesia sudah mampu bersaing. Pengalaman studi banding ke luar negeri juga memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan standar layanan yang kompetitif," ujarnya, dikutip Jumat 17 Juli 2026.
Halaman Selanjutnya
Pandangan serupa disampaikan travel content creator Taufik Effendi yang telah menjajal layanan kereta api di 24 negara. Menurutnya, penumpang kini tidak hanya mengejar tujuan akhir, tetapi juga menikmati pengalaman selama berada di dalam kereta.