Nestapa Iran: Disanksi Amerika Serikat, Penerbangan Pesawat Tak Boleh Lewat

Teheran -

Nestapa menimpa Iran. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi. Penerbangan pesawat dari dan menuju ke negara itu dilarang. Jika dilanggar, ada sanksi yang menanti.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan maskapai Iran akan kehilangan akses terhadap berbagai layanan penting yang dibutuhkan untuk menjalankan penerbangan internasional.

"Pada 23 September, seluruh maskapai Iran akan ditutup di seluruh dunia," kata Bessent, dikutip dari AFP, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maskapai Iran tidak akan bisa mengisi bahan bakar saat beroperasi di bandara internasional. Jika ada negara yang melanggar, maka akan disanksi oleh AS.

"Jika mereka mendarat, tidak boleh ada yang mengisi bahan bakar pesawat mereka, memberikan layanan pendaratan, atau menjual tiket untuk mereka. Jika tetap melayani, pihak tersebut berisiko kehilangan akses ke sistem dolar AS," kata dia.

Total ada 27 maskapai Iran yang dilarang terbang oleh Amerika Serikat di rute penerbangan internasional. Berikut daftarnya:

1. Air Shiraz
2. Asa Jet Airline
3. Ata Airlines Company
4. Atlas Aviation Group
5. Ava Airlines
6. Chabahar Airlines Company
7. Erwan Airline Company
8. Fly Kish Airlines
9. Fly Persia Airlines
10. Iran Air Tour
11. Iran Aseman Airlines
12. Jsky Airlines
13. Kish Airlines
14. Karun Airlines Company
15. Lad Airways
16. Mehr Airways
17. Nasim Air
18. Pars Oghyanous Kish Company
19. Qeshm Air
20. Raimon Airways
21. Saha Airlines
22. Sepehran Airlines
23. Soroush Air
24. Taban Airlines
25. Toos Airlines
26. Varesh Airlines
27. Zagros Airlines

Kementerian Keuangan AS menyatakan sanksi tersebut merupakan bagian dari kampanye Operasi Pengasingan Ekonomi terhadap Iran yang bertujuan untuk mengisolasi sektor penerbangan Iran, serta memutus dukungan keuangan yang menurut Washington menopang pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Tak hanya maskapai Iran yang menjadi sasaran, tetapi juga bandara, pemasok bahan bakar pesawat, perusahaan layanan darat (ground handling), hingga agen penjualan tiket yang masih melayani maskapai-maskapai negara tersebut.

Seluruh pihak yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran berisiko terkena sanksi sekunder dan kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis mata uang dolar AS.

Menanggapi tekanan sanksi Amerika terhadap industri penerbangan negaranya, Presiden Iran Massoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah.

"Perlawanan rakyat Iran hanya akan semakin kuat menghadapi sanksi, tekanan, dan intimidasi dari Amerika Serikat," kata Pezeshkian di New York saat menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ternyata, tidak semua negara patuh terhadap perintah Amerika Serikat. China misalnya, pada hari Selasa mengatakan pihaknya menentang sanksi AS dan menyebutnya ilegal. Penerbangan ke Shanghai juga dijadwalkan berangkat pada hari Rabu, menurut bandara internasional Teheran.

Beberapa penerbangan ke Istanbul juga dijadwalkan, meskipun yang lain telah dibatalkan, kata agen perjalanan kepada AFP.

"Situasinya tidak stabil dan kami tidak lagi menjual tiket untuk sementara waktu karena takut akan pembatalan," kata agen tersebut, yang meminta namanya dirahasiakan.

(wsw/ddn)