Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal China untuk mengembangkan pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE).
Kolaborasi bilateral tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan sampah perkotaan sekaligus menghasilkan energi dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
Kerja sama tersebut dilakukan PT Sucofindo (Persero) bersama Hsucheng Environmental Technology Services (Shanghai) Co., Ltd. (HCETS), melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 13 Agustus 2026.
Direktur Utama PT Sucofindo Sandry Pasambuna mengatakan, kerja sama ini merupakan fondasi penting bagi kedua pihak dalam membangun kolaborasi yang berorientasi pada upaya berkelanjutan sekaligus mendorong hadirnya solusi hijau yang memberikan manfaat secara luas.
“Indonesia membutuhkan solusi yang andal untuk mengurangi beban sampah perkotaan, salah satunya melalui upaya Waste to Energy (WTE). Namun, keberhasilan proyek WTE tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas desain dan konstruksi, kesiapan operasional, keandalan aset, pengendalian emisi, pengelolaan residu merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan secara menyeluruh,” tutur dia, Rabu (19/8/2026).
Dia menyebutkan, pengembangan WTE di Indoensia masih memiliki sejumlah aspek yang dapat diperkuat, khususnya secara teknis. Perusahaannya dalam hal ini berperan memberikan assurance yang objektif dan independen di sepanjang siklus proyek serta mendukung akselerasi pembangunan dan pengoperasian Waste-to-Energy Power Plant/PSEL.
“PT Sucofindo berperan dalam memberikan assurance mulai dari tahap pembangunan, pengoperasian, hingga perawatan fasilitas. Peran tersebut dilakukan untuk memastikan setiap tahapan proyek memenuhi aspek kualitas, keselamatan, keandalan, serta persyaratan teknis dan lingkungan yang berlaku,” jelas Sandry.
Sehingga melalui sinergi ini, kedua pihak diharapkan dapat memperoleh hasil yang konkret dan memberikan manfaat timbal balik.