OPEC+ Sepakat Tahan Target Produksi, Harga Minyak Masih di Atas US$100

Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026, yakni sebesar 31,01 juta barel per hari.

Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan daring pada Minggu (4/10) kemarin.

Kesepakatan itu disetujui oleh tujuh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa perubahan lebih lanjut terhadap kebijakan produksi kemungkinan baru dilakukan tahun depan.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan produksi negara-negara OPEC+ masih berada jauh di bawah kuota meski aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat.

"Kelompok tujuh OPEC+ mempertahankan batas produksi mereka, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, meski arus melalui Selat Hormuz meningkat, tingkat produksi mereka masih jauh di bawah kuota," kata Staunovo dikutip dari Reuters, Minggu (4/10).

Menurut dia, kondisi tersebut yang membuat pasar minyak masih ketat.

Harga minyak sempat turun pada Jumat (2/10) setelah para pemimpin Eropa menyetujui permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melepas cadangan diesel. Meskipun demikian, harga minyak mentah Brent masih tetap berada di atas US$100 per barel.

Harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$73 per barel sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari 2026.

Perang Iran juga menghambat kajian kapasitas produksi OPEC+ yang diperlukan untuk menentukan kuota produksi masing-masing anggota pada 2027.

Ketidakpastian terkait kemampuan produksi di masa depan juga membuat kajian tersebut belum dapat diselesaikan.

Sepanjang 2026, OPEC+ telah meningkatkan target produksi setelah bertahun-tahun menerapkan pemangkasan produksi. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut belum terealisasi karena konflik di Timur Tengah.

Tujuh anggota inti OPEC+ kini telah memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bph) pada Agustus 2026, naik 630 ribu bph dari Juli. Namun, angka tersebut masih sekitar 5 juta bph lebih rendah dibandingkan tingkat produksi sebelum perang pada Februari.

OPEC+ kini masih memiliki sekitar 2 juta bph pemangkasan produksi yang berlaku bagi sebagian besar anggotanya. Kelompok tersebut membutuhkan hasil kajian kapasitas produksi untuk menentukan pembagian kenaikan produksi berikutnya.

Perubahan target produksi juga diperkirakan belum akan dilakukan sebelum 2027.

Selanjutnya, OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 1 November 2026.

[Gambas:Video CNN]

(lil/sfr)