Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Muhammad Bayu Sasongko mengimbau masyarakat untuk tidak menormalisasi gangguan atau penurunan fungsi penglihatan sebagai hal yang wajar akibat proses penuaan maupun penyakit diabetes.
Dalam acara Forum Jurnalis Kesehatan "Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik" di Jakarta, Senin, Prof. Bayu mengatakan bahwa anggapan keliru tersebut kerap membuat penderita enggan memeriksakan mata hingga memicu komplikasi kebutaan permanen.
"Berdasarkan survei persepsi yang kami lakukan, banyak pasien menganggap lumrah jika penglihatan buram karena sudah tua dan menderita diabetes. Normalisasi seperti ini harus diluruskan," ujarnya.
Berdasarkan data terkini Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi diabetes di Tanah Air terus meningkat, dimana diperkirakan satu dari sepuluh penduduk Indonesia saat ini hidup dengan kondisi diabetes, termasuk yang mengganggu penglihatan.
Bahkan Organisasi Diabetes Internasional (IDF) mencatat jumlah penderita diabetes di Indonesia telah melampaui 20 juta jiwa dan diproyeksikan akan melonjak hingga melebihi 30 juta orang pada tahun 2045 mendatang.
Untuk itu Prof Bayu menjelaskan penurunan fungsi penglihatan akibat komplikasi diabetes sebetulnya sangat dapat dicegah serta dihambat progresivitasnya jika pasien rutin melakukan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat.
Adapun risiko dari membiarkan komplikasi terus berlanjut, kata dia, berdampak signifikan pada penurunan kualitas hidup pasien serta membebani keluarga yang harus meluangkan waktu mendampingi berobat ke berbagai poli spesialis secara bergantian.
Untuk itu ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan indra penglihatan karena sekitar 85 persen informasi sensoris dan proses pembentukan memori otak manusia ditangkap secara visual melalui mata.
"Ketika seseorang kehilangan fungsi penglihatannya akibat retinopati diabetik, maka individu tersebut akan kehilangan kesempatan besar dalam memperoleh informasi esensial serta terganggu kemandirian mobilitas hariannya," kata Prof Bayu.
Ia mengharapkan adanya dorongan aktif dari insan pers untuk menyebarkan edukasi kesehatan guna membangun kesadaran penderita diabetes agar proaktif memeriksakan kondisi mata sebelum terjadi penyesalan.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.