Pemkab Bantul menerima aspirasi petani bawang merah soal produktivitas
Kamis, 20 Agustus 2026 20:26 WIB
Petani merawat tanaman bawang merah di Dusun Bulak Bungkus, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (20/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menerima aspirasi para petani bawang merah saat Panen Raya Bawang Merah di Dusun Bulak Bungkus, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, untuk bisa meningkatkan produktivitas bawang merah yang berkelanjutan.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, di Bantul, Kamis, mengatakan sejumlah aspirasi dari petani telah diterima Pemkab Bantul untuk selanjutnya direkomendasikan kepada Kementerian Pertanian dan Pemda DIY.
"Usulan itu salah satunya untuk mengatasi rob tahunan yang berdampak pada produktivitas bawang merah dan cabai merah di kawasan Parangtritis ini," katanya.
Untuk mengatasi rob yang rutin terjadi setiap tahun, Pemkab Bantul membutuhkan tanggul dan alat berat agar genangan air rob di hamparan lahan bawang merah dapat segera ditangani.
"Kami sepertinya butuh tanggul dan alat berat untuk mengatasi kendala itu," ujarnya.
Selain itu, Halim menyampaikan usulan petani untuk memulai swasembada benih guna mengurangi biaya produksi bawang merah yang perlu didukung dengan pembangunan instalasi pembenihan.
"Kita memerlukan instalasi pembenihan bawang merah," katanya.
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis Kadiso mengatakan salah satu permasalahan yang dihadapi petani bawang merah adalah genangan air akibat letak geografis lahan pertanian di Parangtritis yang berada di bawah gunung.
"Ketika hujan deras, lahan pertanian di Parangtritis terjadi genangan air yang menggenangi lahan pertanian," katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu diatasi dengan penambahan saluran drainase agar debit air yang tinggi tidak menggenangi lahan pertanian.
Kendala lainnya, lanjut dia, adalah akses menuju lahan pertanian di beberapa titik yang cukup menyulitkan karena jalan untuk aktivitas budidaya maupun mengangkut hasil pertanian mengalami kerusakan.
"Kita perlu perbaikan atau renovasi jalan usaha tani," ujarnya.
Kadiso juga menilai tenaga kerja di sektor pertanian masih minim karena petani dari generasi tua sudah tidak mampu lagi bekerja di sektor tersebut, sedangkan generasi muda lebih banyak tertarik bekerja di sektor pariwisata.
"Sehingga tenaga kerja kita harus dari luar daerah, kami butuh alsintan (alat dan mesin pertanian) seperti hand tractor rotary," katanya.
Selain itu, pihaknya menilai ketentuan penetapan alokasi pupuk bersubsidi berdasarkan jenis komoditas yang ditentukan pemerintah pusat perlu diperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan petani.
"Misalnya kami petani hortikultura, jatah pupuk bersubsidi kami hanya NPK Phonska, padahal kami butuh ZA, butuh SP, nah itu artinya kita harus membeli yang non-subsidi dengan harga yang cukup tinggi," ujarnya.
Usulan terakhir berkaitan dengan pengadaan gudang penyimpanan hasil panen bawang merah untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya harga maupun daya beli masyarakat.
"Harapannya bisa melakukan sistem tunda jual dengan mengeringkan hasil panen dan menunggu harga stabil sekitar 1 sampai 1,5 bulan," katanya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026