Kota Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu, Provinsi Bengkulu mendorong masyarakat di wilayah tersebut untuk melakukan pengelolaan sampah melalui berbagai kegiatan produktif di tingkat kelurahan.
Salah satu contoh penerapannya adalah Gerakan Masyarakat Peduli Sampah yang dikembangkan oleh Divisi Usaha Produktif Berbasis Pengolahan Sampah (UPBPS) Manunggal Lestari di Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung.
"Yang pertama, kesadaran masyarakat semakin tinggi terhadap sampah. Ini di Kelurahan Kebun Tebeng, mereka memanfaatkan dana kelurahan untuk melakukan kegiatan pengelolaan sampah," kata Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi di Bengkulu, Kamis.
Ia menyebut bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat salah satunya untuk pengelolaan maggot dan pupuk.
Dengan adanya pengelolaan tersebut dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan.
"Kalau semua warga punya pemikiran seperti ini, maka sampah tidak akan menjadi masalah, ini berbasis kelurahan dan nanti juga akan meningkatkan ekonomi keluarga," sebutnya.
Dedy berharap agar pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat terus dikembangkan dan dilakukan secara lebih masif pada 2027 dan menjadikan program di Kelurahan Kebun Tebeng sebagai contoh bagi kelurahan lainnya untuk mengembangkan kegiatan pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan.
Serta dapat mengurangi persoalan sampah dan mendorong keterlibatan masyarakat sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi keluarga.
Sebelumnya, pemerintah kota mengajak masyarakat untuk mengelola limbah organik agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan budidaya maggot di Kota Bengkulu.
Untuk itu, pemerintah kota mendorong seluruh kelurahan di wilayah tersebut untuk membudidayakan maggot sebagai salah satu upaya mengurangi permasalahan sampah organik dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Salah satunya Kelurahan Tanah Patah Kota Bengkulu yang mengembangkan melalui Berendo Maggot yang bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) tahun 2026.
Program yang terintegrasi dengan budidaya ikan lele dan itik, dengan maggot dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan akan menjadi percontohan untuk dapat diterapkan di kelurahan lain.
Sebab, sampah organik atau sampah basah yang selama ini tidak memiliki nilai guna dapat diolah menjadi maggot sehingga lebih bermanfaat, sedangkan untuk sampah plastik sudah memiliki pihak yang menampung untuk didaur ulang.
Pewarta: Anggi Mayasari
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.