Pemkot kembangkan potensi wilayah melalui Festival Babad Siti Kemantren

Pemkot kembangkan potensi wilayah melalui Festival Babad Siti Kemantren

Minggu, 30 Agustus 2026 16:28 WIB

Image Print

Tugu Yogyakarta yang ada di Kota Yogyakarta. ANTARA/Fikri Alvian

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali menggelar Festival Babad Siti Kemantren secara serentak di 14 kemantren pada 31 Agustus 2026, sebagai upaya mengembangkan dan mengangkat potensi wilayah yang terdapat di masing-masing kecamatan tersebut.

"Memasuki tahun ke empat, Babad Siti Kemantren tidak hanya diarahkan sebagai agenda pelestarian kebudayaan, tetapi juga sebagai ruang membangun kolaborasi dan mengembangkan potensi wilayah," kata Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Yetti Martanti di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, festival dalam rangkaian Peringatan Hari Keistimewaan Yogyakarta tersebut melibatkan berbagai unsur melalui pendekatan pentahelix, yaitu pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan.

Dia mengatakan, penguatan narasi sejarah dan budaya diharapkan dapat membuka ruang-ruang baru bagi masyarakat untuk mengenali potensi wilayahnya.

Kemudian pada saat yang sama, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi daya tarik yang mendukung ekonomi kreatif, produk lokal, kemitraan, maupun aktivitas berbasis pengalaman (experience-based tourism).

"Dengan demikian, Babad Siti Kemantren 2026 tidak hanya mengajak masyarakat mengenang masa lalu, tetapi menjadikan sejarah dan budaya sebagai pijakan untuk membangun masa depan wilayah yang lebih mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar pada identitas sejarahnya," katanya.

Menurut dia, festival tersebut mengajak masyarakat melihat Kota Yogyakarta melalui 14 paras muka yang istimewa, dengan keberagaman tradisi, cerita rakyat, sejarah, dan warisan budaya yang hidup di masing-masing kemantren.

"Setiap wilayah memiliki karakter dan cerita yang berbeda, sekaligus menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta," katanya.

Dia juga mengatakan, setiap kemantren atau kecamatan memiliki cerita dan karakter budaya yang berbeda beda, sesuai dengan sejarah dan tradisi yang dilestarikan masyarakat setempat.

"Melalui Babad Siti Kemantren, kami ingin memperkuat narasi sejarah dan budaya di setiap wilayah sekaligus mengemasnya melalui storytelling yang menarik dan komunikatif, sehingga sejarah menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat," katanya.

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026