Pemprov Jateng sinergikan delapan daerah perkuat DAS dampak nyata perubahan iklim
Rabu, 5 Agustus 2026 19:07 WIB
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno, bersama pimpinan delapan daerah dan lembaga global menunjukkan kesepahaman dalam penguatan daerah aliran sungai (DAS), di Semarang, Rabu (5/8/2026). ANTARA/HO-Pemprov Jateng
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyinergikan delapan daerah dan lembaga global untuk membangun ketangguhan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) seiring dengan dampak nyata perubahan iklim yang kian mengancam.
Upaya itu dilakukan dengan penandatanganan kerja sama penguatan kebijakan dan implementasi ketahanan iklim serta pengurangan risiko banjir bersama delapan pemerintah daerah, Mercy Corps Indonesia, dan Zurich Climate Resilience Alliance, di Semarang, Rabu.
Hal tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas wilayah dalam pengelolaan daerah aliran sungai dari hulu hingga hilir.
Sekretaris Daerah Jateng Sumarno mengatakan perubahan iklim telah memberikan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Oleh karena itu, penanganannya tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi antardaerah dan berbagai pemangku kepentingan.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Mercy Corps Indonesia dan Zurich Climate Resilience Alliance yang sudah mendampingi Jawa Tengah selama hampir tujuh tahun," katanya.
Menurut dia, DAS memiliki peran strategis karena menjadi sumber air baku bagi masyarakat, sekaligus menopang kebutuhan irigasi pertanian
Namun, kata dia, berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini menuntut adanya upaya bersama untuk menjaga keberlanjutannya.
Ia menegaskan pengelolaan DAS tidak bisa dibatasi oleh wilayah administratif, sebab aliran sungai melintasi sejumlah kabupaten dan kota, mulai dari kawasan hulu hingga hilir
"Sehingga diperlukan kolaborasi lintas daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing agar tujuan bersama bisa tercapai," katanya.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan iklim tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan air, tetapi juga mengurangi risiko bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.
"Yang tidak kalah penting adalah membangun kesiapan dan ketangguhan masyarakat yang tinggal di kawasan daerah aliran sungai agar mampu menghadapi berbagai dampak perubahan iklim di masa mendatang," katanya.
Sementara itu, Executive Director Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis menjelaskan bahwa isu perubahan iklim, ketahanan, dan kebencanaan merupakan persoalan multidimensi yang membutuhkan pendekatan terintegrasi berbasis bentang alam.
"Perubahan iklim, resiliensi, dan kebencanaan bukan persoalan satu sektor. Ini isu multisektoral yang tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di kawasan hulu. Pendekatannya harus menyeluruh, menghubungkan pengelolaan dari hulu hingga hilir," katanya.
Implementasi program ketahanan iklim di Jateng, salah satunya adalah kawasan DAS Tuntang, meliputi Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, Grobogan, dan Demak, serta DAS Babon yang mencakup Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Demak.
Melalui kerja sama tersebut, pihaknya ingin menghadirkan model kolaborasi lintas wilayah dan lintas administrasi yang mampu memperkuat ketahanan iklim sekaligus meminimalkan risiko bencana.
"Kami ingin membangun model kerja sama yang komprehensif lintas batas administrasi sehingga berbagai tantangan akibat perubahan iklim dapat diminimalkan. Program ini bukan hanya milik Mercy Corps, tetapi menjadi program bersama yang melengkapi dan bersinergi dengan program pemerintah," katanya.
Baca juga: Menjadikan Semarang kota tujuan utama di Pulau Jawa
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.