Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat pengembangan industri hijau melalui pendampingan dan kolaborasi lintas sektor untuk memperluas peluang dan daya saing ekspor produk dalam negeri.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Iwan mengatakan percepatan tersebut menjadi kebutuhan karena produk yang dipasarkan ke luar negeri dituntut memenuhi standar keberlanjutan melalui sertifikasi industri hijau.
"Kalau industri kita masuk ke pasar ekspor luar negeri, salah satu syarat sertifikatnya adalah standar industri hijau ini," kata Iwan saat kegiatan Katalis Jatim - Kemitraan Industri-startup untuk Transisi Hijau, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Ia menjelaskan, saat ini pelaku industri di Jawa Timur yang telah memperoleh sertifikasi industri hijau masih terbatas, sehingga pemerintah daerah terus melakukan pendampingan yang kini diperkuat melalui kemitraan dengan berbagai pihak agar proses transformasi berjalan lebih cepat.
Menurut dia, sertifikasi industri hijau memerlukan tahapan dan parameter yang cukup panjang sehingga dibutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendamping, serta penyedia teknologi bersih.
Saat ini, kata dia, Jawa Timur memiliki modal besar untuk mempercepat transformasi tersebut mengingat sektor industri pengolahan menjadi penopang utama perekonomian daerah.
Pada triwulan I 2026, lanjutnya, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp888,44 triliun atau berkontribusi 14,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Untuk sektor industri pengolahan menyumbang 31,45 persen terhadap PDRB Jawa Timur dan tumbuh 5,98 persen pada triwulan I 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen.
"Transformasi menuju industri yang lebih efisien, rendah karbon, dan berkelanjutan merupakan langkah strategis yang harus terus didorong untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan," ujarnya.
Baca juga: ESI: transisi investasi energi momentum RI perkuat industri hijau
Baca juga: Kemenperin bakal beri insentif dan kemudahan kawasan industri hijau
Sementara itu, Direktur New Energy Nexus Indonesia Diyanto Imam mengatakan pihaknya memulai kerja sama melalui pemetaan kebutuhan industri di Jawa Timur agar solusi yang diberikan sesuai dengan tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
Oleh karena itu, kata dia, dengan pendekatan tersebut, hasil pemetaan nantinya akan menjadi dasar penyusunan program pendampingan dan adopsi teknologi bersih bagi pelaku industri baik industri kecil menengah (IKM) maupun usaha kecil menengah (UKM).
Sehingga, lanjutnya, dapat mendukung target pembangunan industri rendah karbon yang sudah diprogramkan oleh Pemprov Jawa Timur.
"Industri hijau tidak hanya untuk industri besar saja, tetapi kita juga ingin memastikan bahwa IKM dan UKM bisa masuk ke dalam ekosistem tersebut," katanya.
Baca juga: Khofifah terima penghargaan Industri Hijau terbaik dari Kemenperin RI
Baca juga: Pemerintah Provinsi Jatim bentuk Forum Industri Hijau
Pewarta: Indra Setiawan/Naufal Ammar Imaduddin
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.