Pencarian jurnalis lewat udara belum hasilkan temuan - ANTARA News Bangka Belitung

Pandeglang (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan bahwa hasil operasi pencarian melalui udara terhadap jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Pandeglang, Banten pada Kamis (10/9) belum menghasilkan temuan.

"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat. Tapi hasil operasi hari ini tentunya dari laporan enam sektor yang ada di lapangan dan itu nanti akan dilaporkan ke posko gabungan," kata Syafii dalam konferensi pers di Pandeglang, Kamis.

Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan langsung dari udara dengan menggunakan sarana penerbangan, pihak Basarnas mengaku belum melihat secara langsung tanda-tanda keberadaan korban di daratan pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.

Namun demikian, ditegaskannya, tim SAR akan terus melanjutkan pencarian secara intensif selama tujuh hari ke depan sesuai standar pedoman internasional (IAMSAR Guidelines).

"Kami memastikan bahwa proses pencarian di lapangan masih terus berjalan dan belum dihentikan. Operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang ketat dengan instansi terkait, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," terangnya.

Menurutnya, pola operasi SAR sangat bergantung pada pemutakhiran data ilmiah dari PVMBG dan BMKG. Tim di lapangan juga dihadapkan pada tantangan cuaca, termasuk jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap yang bersumber dari kebakaran maupun aktivitas vulkanik di bawah ketinggian 1.500 meter.

Meski abu vulkanik tingkat tinggi dilaporkan telah bergerak ke arah Samudra Hindia di atas ketinggian 50.000 kaki, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama sebelum tim darat diturunkan langsung ke pulau sasaran.

"Sesuai standar, pada hari ketujuh nanti kita akan melaksanakan rapat evaluasi yang melibatkan semuanya, baik itu PVMBG, teman-teman BMKG, hingga tim medis untuk membahas kelanjutan operasi ini," paparnya.

Dalam hal ini, untuk mendukung percepatan operasi ini tim SAR gabungan mengerahkan sedikitnya 11 kapal utama dari berbagai unsur, mulai dari KRI milik TNI Angkatan Laut, kapal Polairud Polri, kapal milik Basarnas, hingga kapal-kapal pendukung dari potensi SAR lainnya.

"Kekuatan tersebut didukung oleh lebih dari 300 personel inti yang siaga di posko maupun di lapangan," ucapnya.

Namun, pengawasan dan imbauan keselamatan terus disiarkan secara terus-menerus kepada para pengguna lalu lintas laut agar turut membantu memantau dan melaporkan jika menemukan tanda-tanda korban di perairan.

"Kami mengingatkan bahwa penanganan kedaruratan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Seluruh warga negara memiliki kewajiban moral untuk melakukan tindakan awal dalam situasi darurat, sambil menunggu kehadiran institusi terkait seperti TNI, Polri, Babinsa, maupun aparat keamanan setempat di lapangan," kata dia.

Sebelumnya, Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten menerjunkan unit Helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 sebagai mendukung pencarian lima jurnalis yang hilang kontak di area perairan Selat Sunda.

Helikopter HR-3604 berangkat dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) pada pukul 12.36 WIB dan direncanakan tiba di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada pukul 12.52 WIB. Rute penerbangan meliputi JIExpo Kemayoran – Pantai Carita – BPBD Banten – Helipad/JIExpo Kemayoran.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad menjelaskan, unit armada udara ini membawa sebanyak tujuh orang crew on board. Di mana, langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan pencarian melalui dukungan udara, khususnya dalam pemantauan wilayah operasi SAR di sekitar Perairan Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau.

"Kantor Pencarian dan Pertolongan bersama seluruh unsur SAR Gabungan terus mengoptimalkan berbagai sarana dan metode pencarian guna menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian," paparnya.

Pewarta: Azmi Samsul Ma'arif
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.