Kepahiang, Bengkulu (ANTARA) - Wakil Gubernur Bengkulu Mian mengatakan penerbangan menuju Bengkulu masih terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dengan sejumlah penundaan keberangkatan dan ketibaan.
"Jangan panik (menghadapi situasi erupsi Anak Krakatau), kalau belum boleh ke Jakarta masih ditunda dan sebagainya (bersabar dulu)," kata Mian di Kepahiang, Senin.
Mian mengatakan penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta ikut berdampak terhadap perjalanan udara ke Bengkulu. Hal tersebut karena penerbangan ke Bengkulu, satu-satunya hanya melewati Jakarta.
Selain menuju Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan domestik dari dan ke Bengkulu lainnya yakni layanan perintis seperti ke pulau terluar Indonesia di Bengkulu, Pulau Enggano, dan beberapa layanan perintis lainnya.
"Ya karena mau ke Bengkulu, atau ke luar ya lewat Soetta," kata dia.
Dia mengatakan penundaan penerbangan tentunya demi memperhatikan aspek keselamatan, dan masyarakat pun diminta bersabar menyikapi situasi tersebut.
Mian meminta masyarakat agar tidak panik menyikapi gangguan penerbangan maupun kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya masyarakat perlu tetap tenang sembari memperhatikan perkembangan kondisi yang ada.
Selain persoalan penerbangan, Mian mengatakan pemerintah juga terus memantau situasi masyarakat dan daerah di tengah kondisi erupsi. Dia mengingatkan masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan menggunakan masker pada kondisi tertentu.
"Pakai masker, itu adalah bagian dari kesehatan ya. 6M atau 5M sekarang istilahnya itu, seperti cuci tangan, pakai masker dan sebagainya itu," ujarnya.
Kondisi penundaan penerbangan lanjut dia juga menyebabkan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan belum bisa kembali ke Bengkulu mengakhiri perjalanan dinas yang telah digelar beberapa hari terakhir.
Baca juga: Penerbangan di Lampung masih terdampak erupsi Krakatau
Baca juga: Penerbangan di Bandara Lombok masih terdampak abu vulkanik Krakatau
Baca juga: Akademisi: Aktivitas gunung api yang bersamaan tidak saling berkaitan
Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.