Pengamat: Jalur sepeda harus dikelola, bukan sekadar dibangun

Jakarta (ANTARA) - Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan keberadaan jalur sepeda di kawasan perkotaan tidak bisa dinilai sekadar perlu atau tidak, tetapi harus melihat fungsi, integrasi, serta komitmen dalam pengelolaannya.

"Pertanyaan mengenai perlu atau tidaknya jalur sepeda di kawasan perkotaan tidak bisa dijawab sekadar ya atau tidak, melainkan tergantung pada fungsi, integrasi, dan komitmen pengelolaannya," kata Djoko di Jakarta, Sabtu.

Menurut Djoko, jalur sepeda yang hanya dibangun sebagai pelengkap formalitas tanpa perencanaan matang berpotensi tidak efektif.

Sebaliknya, jika dirancang secara strategis, jalur sepeda dapat menjadi investasi jangka panjang yang penting bagi sistem transportasi perkotaan.

Selain itu ia menilai, jalur sepeda menjadi fasilitas yang sangat krusial dalam menunjang mobilitas perkotaan.

Ia menjelaskan, jalur sepeda berperan dalam meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan memisahkan pesepeda dari kendaraan bermotor yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Pemisahan tersebut dinilai dapat menekan risiko kecelakaan fatal. Selain itu, jalur sepeda dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurai kemacetan sekaligus menekan emisi karbon dengan mendorong penggunaan moda transportasi mikro untuk perjalanan jarak dekat.

Djoko menambahkan, tersedianya jalur sepeda yang aman juga dapat mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup aktif.

Fasilitas tersebut sekaligus memperluas aksesibilitas bagi masyarakat yang tidak menggunakan kendaraan bermotor pribadi.

Di sisi lain, jalur sepeda memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas transportasi publik, khususnya untuk perjalanan first mile dan last mile.

"Sepeda merupakan moda pengumpan atau feeder ideal yang menghubungkan kawasan permukiman dengan stasiun atau halte transportasi massal, seperti Commuter Line, LRT, MRT, hingga TransJakarta," ujar Djoko.

Menurut dia, jalur sepeda yang terintegrasi dengan transportasi publik memungkinkan masyarakat berpindah moda secara lebih mudah dan efisien tanpa harus bergantung pada kendaraan bermotor pribadi.

Dari aspek penggunaan ruang, Djoko menilai sepeda juga jauh lebih efisien dibandingkan mobil pribadi karena membutuhkan ruang jalan yang lebih kecil.

Menurutnya, dominasi kendaraan pribadi dengan satu penumpang atau single-occupancy vehicle menjadi salah satu faktor yang memperparah kemacetan di kawasan perkotaan.

Ia menambahkan, peralihan penggunaan kendaraan bermotor ke sepeda tidak hanya dapat membantu menekan polusi udara, termasuk PM2.5 dan karbon dioksida (CO2), tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif secara fisik dan menjalani pola hidup yang lebih sehat.

Baca juga: Pengamat usul jalur sepeda dibuat lebih tinggi dari jalan raya

Baca juga: Menimbang keberadaan jalur sepeda di Jakarta

Baca juga: DPRD DKI minta Pemprov alokasikan anggaran untuk merawat jalur sepeda

Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.