Penglihatan Buram hingga Kurang Zat Besi, 4 Masalah Ini Bisa Mengganggu Potensi Anak di Masa Depan

Bagikan:

JAKARTA - Mewujudkan generasi emas pada 2045 tidak hanya bergantung pada keberhasilan menekan angka penyakit atau meningkatkan angka harapan hidup.

Ada tantangan lain yang dinilai jauh lebih senyap, tetapi dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang, yakni menurunnya kapasitas kognitif anak akibat berbagai masalah kesehatan yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan Indonesia berpotensi menghadapi fenomena Silent Cognitive Burden. Bisa dikatakan kondisi ini merupakan penurunan kemampuan perkembangan kognitif anak yang terjadi secara perlahan karena sejumlah masalah kesehatan belum menjadi prioritas dalam kebijakan publik.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan berkembang menjadi krisis kognitif yang memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Peringatan tersebut disampaikan berdasarkan hasil Community Diagnosis yang dituangkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4. Kajian yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, ini disusun melalui rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi dalam Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.

Hasil kajian mengidentifikasi empat faktor utama yang memiliki hubungan kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yakni gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi, defisiensi zat besi, kekurangan protein, dan gangguan perilaku.

Keempat kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi proses belajar dan perkembangan fungsi otak anak.

Berdasarkan estimasi IHDC, lebih dari delapan juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang belum tertangani. Sementara itu, lebih dari tujuh juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi.

Di sisi lain, data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.

BACA JUGA:


Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan Republik Indonesia periode 2014–2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan bahwa dampak dari berbagai kondisi tersebut jauh melampaui persoalan kesehatan individu.

"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila F. Moeloek.

Menurut kajian IHDC, perkembangan anak seharusnya tidak lagi hanya diukur dari pertumbuhan fisik atau bebas penyakit. Yang tak kalah penting adalah kemampuan otak untuk belajar, memahami informasi, berpikir kritis, menyelesaikan persoalan, hingga memiliki gambaran tentang masa depan.

Untuk itu, IHDC memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yakni kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, mengembangkan kreativitas, memecahkan masalah, serta membangun orientasi terhadap masa depan.

Direktur Eksekutif IHDC, Dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai paradigma pembangunan anak perlu berubah agar tidak semata berfokus pada pengobatan penyakit, melainkan juga pada penguatan fungsi otak sejak dini.

"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," ungkap Dr. Ray yang juga merupakan pendiri Health Collaborative Center (HCC) ini.

Dari keempat faktor yang diidentifikasi, IHDC menilai gangguan refraksi yang tidak terkoreksi menjadi persoalan yang paling memungkinkan untuk segera diintervensi. Selain jumlah penderitanya yang tinggi, dampaknya terhadap proses belajar berlangsung secara langsung dan penanganannya relatif sederhana melalui skrining mata serta penggunaan kacamata yang sesuai.

Selain itu, IHDC juga mendorong penguatan upaya pencegahan anemia akibat defisiensi zat besi, peningkatan kualitas asupan protein dan nutrisi anak usia sekolah, serta deteksi dini terhadap gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.

Bagi Nila Moeloek, investasi terhadap kesehatan otak anak merupakan investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa.

"Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa," ujar Nila Moeloek.

Melalui kajian ini, IHDC berharap isu perkembangan kapasitas kognitif anak mendapat perhatian yang lebih besar dalam penyusunan kebijakan nasional. Sebab, membangun generasi masa depan tidak cukup hanya memastikan anak tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga memastikan mereka memiliki kemampuan berpikir, berimajinasi, dan berinovasi untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+