Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan kereta cepat asal Florida, Brightline, dikabarkan tengah bersiap mengajukan kebangkrutan berdasarkan Chapter 11 di New Jersey dalam waktu dekat, untuk merestrukturisasi utang senilai sekitar US$5,5 miliar atau setara Rp98,45 triliun (kurs Rp17.900/US$).
Mengutip laporan eksklusif The Wall Street Journal, rencana ini didasarkan pada sumber-sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut.
Rencana pengajuan pailit ini menandai berakhirnya negosiasi lebih dari setahun dengan para kreditur untuk merestrukturisasi utang Brightline di luar jalur pengadilan. Perusahaan yang didukung Fortress Investment Group ini berencana memangkas beban utangnya menjadi sekitar US$2,7 miliar atau setara Rp48,33 triliun sebagai bagian dari restrukturisasi.
Berdasarkan proposal restrukturisasi, entitas operasional Brightline akan tetap berada di luar proses Chapter 11 agar layanan kereta tetap berjalan, sementara restrukturisasi struktur permodalan dilakukan melalui perusahaan induk (holding company) yang mengajukan pailit. Perusahaan diperkirakan akan merampungkan dan berpotensi mendistribusikan kesepakatan dukungan restrukturisasi (restructuring support agreement) paling cepat pekan ini.
Sekelompok pemegang obligasi kota (municipal bondholders) dan kreditur, termasuk Assured Guaranty, BlackRock, First Eagle, Invesco, Nomura, dan Nuveen, dilaporkan telah sepakat menyediakan pendanaan keluar dari kepailitan (exit financing) senilai US$490 juta atau sekitar Rp8,77 triliun. Sementara itu, utang senior yang dijamin (senior secured debt) senilai US$2,2 miliar atau sekitar Rp39,38 triliun akan tetap ada dalam struktur Brightline yang telah direorganisasi.
Target Penumpang Meleset, Beban Utang Tak Tertutupi
Fortress mengakuisisi rel kereta di Florida ini hampir dua dekade lalu dan mengembangkannya menjadi operator kereta antarkota swasta terbesar di AS. Kereta pertamanya mulai beroperasi antara Fort Lauderdale dan West Palm Beach pada 2018.
Setelah meluncurkan rute Miami-Orlando pada 2023, perusahaan sempat memproyeksikan akan mencapai 4,5 juta penumpang tahunan untuk rute tersebut pada 2026, berdasarkan laporan Fitch Ratings pada 2024. Namun, perusahaan gagal memenuhi target tersebut - sepanjang 2026 hingga Agustus, Brightline baru melayani sekitar 1,4 juta penumpang jarak jauh.
Pertumbuhan jumlah penumpang bulanan sebenarnya membaik di bawah kepemimpinan mantan CEO Eurostar, Nicolas Petrovic, yang mengambil alih posisi CEO awal tahun ini. Pada Agustus, jumlah penumpang bulanan naik 4% menjadi 262.385 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini dinilai tidak cukup untuk membuat beban utang Brightline yang berat menjadi berkelanjutan.
Brightline mengumpulkan total utang US$5,5 miliar melalui kombinasi obligasi kota (municipal bonds), utang kena pajak, serta obligasi komuter untuk mendanai ekspansinya. Pada April 2026, perusahaan sempat mengeluarkan peringatan going concern, memperingatkan kurangnya likuiditas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dan membuka kemungkinan kebangkrutan.
Peringatan tersebut memicu perebutan pengaruh di antara pemegang obligasi kota senior, perusahaan penjamin obligasi, serta pemegang utang junior yang menawarkan skema pendanaan kompetitif - baik untuk mencegah pengajuan pailit maupun untuk mendanai proses kepailitan itu sendiri.
Selain persoalan utang, Brightline juga menghadapi sejumlah gugatan cedera pribadi (personal-injury lawsuits) terkait kecelakaan fatal di jalur relnya, meski perusahaan hingga kini belum dinyatakan bersalah dalam kasus-kasus tersebut.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]