Perang Timur Tengah Perkuat Dolar AS, Yen Jatuh ke Level Terlemah 40 Tahun

Bagikan:

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat tetap kuat sepanjang semester pertama tahun ini. Perang di Timur Tengah, risiko inflasi, dan perkiraan kebijakan moneter ketat Federal Reserve memperkuat posisi dolar sebagai aset aman.

Menurut laporan Anadolu Agency, dikutip Selasa, 14 Juli, Indeks Dolar AS menutup semester pertama dengan kenaikan sekitar 3 persen ke level 101,2. Indeks itu mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Indeks Dolar AS memulai tahun di level 98,2 dan mencapai 101,8 pada 24 Juni, posisi tertinggi sejak Mei 2025. Sepanjang semester pertama, indeks bertahan di sekitar ambang 100.

Dolar menguat terhadap euro, franc Swiss, yen Jepang, dan pound sterling setelah Presiden AS Donald Trump menerapkan kebijakan tarif dan perang Timur Tengah pecah pada akhir Februari.

Tekanan paling besar terlihat pada yen. Nilai tukar dolar AS terhadap yen menyentuh 161,95 pada 29 Juni, level tertinggi sejak Juli 1986. Kondisi itu menempatkan yen pada posisi terlemah terhadap dolar dalam 40 tahun.

Konflik bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Teheran kemudian membalas.

BACA JUGA:


Dampak terbesar perang terasa pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur penting distribusi energi dunia. Kekhawatiran terhadap pasokan mendorong harga minyak naik dan meningkatkan risiko inflasi global.

Kenaikan harga energi membuat pasar mengubah perkiraan arah suku bunga. Sebelum perang, pasar berharap kebijakan moneter lebih longgar. Setelah tekanan inflasi meningkat, perkiraan bergeser ke kebijakan yang lebih ketat, termasuk kemungkinan mempertahankan atau menaikkan suku bunga.

Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Peluang kenaikan lanjutan pada tahun depan juga mulai diperhitungkan di pasar uang.

The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam rapat Januari, Maret, April, dan Juni.

Kevin Warsh, yang mulai menjabat sebagai Ketua The Fed pada Juni, menegaskan stabilitas harga tetap menjadi sasaran utama. Ia menyatakan target inflasi 2 persen akan dipertahankan sampai tekad dan kemampuan bank sentral untuk mencapainya kembali terbukti.

Bank Sentral Eropa atau ECB menghadapi tekanan serupa. Kekurangan pasokan energi diperkirakan menaikkan biaya dan menambah tekanan terhadap euro.

Nilai tukar euro terhadap dolar AS turun menjadi 1,13 pada 24 Juni, terendah sejak Mei 2025. Euro kemudian menutup semester pertama di posisi 1,1422.

Pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga satu kali sebelum akhir tahun. Peluang kenaikan kedua masih terbuka.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+