Perkuat mitigasi bencana, Pemkot Bukittinggi lantik Tim CORE ORARI
Minggu, 6 September 2026 18:21 WIB
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis bersama Tim Communication in Rescue and Emergency (CORE) Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan legislator setempat saat menggelar pelantikan dan pelatihan mitigasi bencana. ANTARA/AL FATAH
Bukittinggi (ANTARA) - Pemerintah Kota Bukittinggi melantik Tim Communication in Rescue and Emergency (CORE) Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) sebagai bagian upaya mitigasi bencana dan keselamatan darurat.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menyampaikan, keberadaan Tim CORE ORARI lokal Bukittinggi-Agam menjadi hal positif dalam mendukung komunikasi pada kondisi darurat maupun kebencanaan.
Menurutnya, komunikasi yang cepat dan dapat diandalkan dibutuhkan untuk mempercepat penyampaian informasi serta koordinasi di lapangan.
“Pada kondisi darurat dan kebencanaan, respon cepat menjadi sangat penting. Kecepatan menerima dan menyampaikan informasi sangat dibutuhkan sehingga bantuan dapat segera dikerahkan,” ujar Ibnu Asis, Minggu.
Melalui pembentukan Tim CORE ORARI Lokal Bukittinggi-Agam ini, diharapkan sinergi antara pemerintah daerah, ORARI, relawan, dan unsur terkait lainnya semakin kuat dalam mendukung kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat dan kebencanaan.
Kepala Bidang Statistik Informasi dan Komunikasi Publik (SIKP) Dinas Komunikasi dan Informatika Bukittinggi, Riri Alhadilla Sukma, menjelaskan, Pelatihan dan Pengukuhan Tim CORE ORARI Lokal Bukittinggi-Agam diikuti oleh 40 anggota ORARI Lokal Bukittinggi Agam yang tergabung dalam Tim CORE Group A.
"Kegiatan pelatihan menghadirkan dua orang instruktur atau narasumber yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi radio kebencanaan, keselamatan dan penanganan keadaan darurat," kata Riri.
Kepengurusan dan pembekalan juga didukung oleh Anggota DPRD Kota Bukittinggi, Dedi Fatria. Kegiatan selama dua hari digelar di Bumi Perkemahan Tapian Ratu.
Dedi Fatria mengatakan pelatihan dan pengukuhan Tim CORE ORARI Lokal Bukittinggi-Agam merupakan bentuk dukungan terhadap penguatan komunitas dalam menghadapi kondisi kebencanaan.
"Berbagai komunitas di Kota Bukittinggi perlu memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan yang dapat mendukung penanganan bencana," kata Dedi.
Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam menjadi salah satu daerah terdampak bencana hidrometeorologi di akhir 2025 lalu, kedua daerah tersebut juga berada dalam kawasan potensi dampak bencana letusan Gunung Marapi dan gempa bumi patahan Sianok.