Petani di Cirebon mulai terapkan PMAAS demi tingkatkan produktivitas - ANTARA News Jawa Barat

Cirebon (ANTARA) - Petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai menerapkan Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) sebagai upaya memodernisasi budidaya padi melalui penerapan teknologi tanam, mekanisasi, dan dukungan sarana produksi untuk meningkatkan hasil panen.

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Palimanan Eeb di Cirebon, Selasa, mengatakan program Kementerian Pertanian tersebut mulai diterapkan di Desa Beberan, Kecamatan Palimanan, dengan diawali pengolahan lahan percontohan seluas satu hektare.

Menurut dia, pengolahan lahan menjadi tahapan awal sebelum dilakukan pengairan guna menjaga kelembapan tanah, sehingga kondisi lahan siap digunakan untuk penanaman padi menggunakan sistem tanam benih langsung (tabela).

"Beberapa hari kemudian baru dilakukan penanaman dengan sistem tanam benih langsung," katanya.

Ia menjelaskan PMAAS dirancang untuk mendorong modernisasi pertanian melalui dukungan pemerintah yang mencakup penyediaan benih, pupuk bersubsidi, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan pompa air.

Eeb mengatakan kebutuhan benih dalam program tersebut berkisar 70-80 kilogram per hektare, sedangkan pengolahan lahan memanfaatkan traktor agar pekerjaan lebih cepat dan efisien dibandingkan cara konvensional.

"Semua sudah difasilitasi pemerintah, mulai dari benih, bantuan pupuk, mekanisasi pertanian, hingga pompa air untuk menunjang kebutuhan irigasi," ujarnya.

Selain menerapkan sistem tabela, kata dia, program tersebut juga menggunakan pola tanam jajar legowo 4:1 maupun 6:1 yang memberikan ruang antartanaman sehingga penyinaran matahari, sirkulasi udara, dan pemeliharaan tanaman menjadi lebih optimal.

Ia menuturkan penerapan teknologi budidaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan benih, mempercepat proses tanam, sekaligus mengoptimalkan pertumbuhan tanaman hingga masa panen.

Pihaknya menilai produktivitas padi melalui PMAAS ditargetkan meningkat menjadi sekitar 10-13 ton gabah per hektare, lebih tinggi dibandingkan metode budidaya biasa yang rata-rata menghasilkan sekitar tujuh ton per hektare.

"Kalau pola tanam konvensional rata-rata sekitar tujuh ton per hektare, melalui PMAAS kami menargetkan hasilnya bisa mencapai 10 sampai 13 ton per hektare," katanya.

Sementara itu, petani Desa Beberan Teguh Basuki mengatakan penerapan PMAAS menjadi solusi menghadapi musim kemarau karena petani memperoleh dukungan sarana produksi dan teknologi yang dapat membantu menjaga produktivitas lahan.

"Selama musim kemarau petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengairan dan pompanisasi. Kami berharap metode ini membuat pengolahan lahan lebih efisien, hasil panen meningkat, dan target swasembada pangan pemerintah dapat tercapai," ujar Teguh.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat Yanti Hidayatun Zakiah mengatakan, provinsinya mendapat kuota 155.000 hektare untuk program tersebut.

"Dengan masuknya PMAAS pada 2026, kita optimistis kontribusi Jabar sebagai penyumbang beras terbesar kedua nasional dapat terus ditingkatkan," tuturnya

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.