PLN EPI Genjot Co-firing Biomassa, Pasokan Ditargetkan 4,07 Juta Ton

Hingga saat ini, sebagian besar pembangkit listrik nasional masih bergantung pada batu bara, minyak dan gas sehingga biomassa menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil secara bertahap.

Baca Juga: PLN EPI Garap Pasar Hidrogen Hijau untuk Industri dan Aviasi

"Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions,” kata Hokkop, Senin (27/7/2026).

seluruh biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian, sehingga tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi. Pendekatan tersebut memastikan pengembangan biomassa tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

"Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan," jelasnya.

Hokkop menambahkan, melalui proses pengolahan dan pengendalian mutu yang tepat, biomassa dapat memenuhi spesifikasi teknis pembangkit sehingga mampu menggantikan sebagian konsumsi batu bara tanpa mengurangi keandalan operasi PLTU.

Implementasi program co-firing PLN EPI terus menunjukkan peningkatan. Sepanjang 2025, perusahaan memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e.

Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU di berbagai wilayah Indonesia.

Secara kumulatif selama periode 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton.

Pasokan tersebut didominasi biomassa berbasis kayu, terutama sawdust sebesar 54,6% dan woodchip sebesar 22,4%, yang telah memenuhi kebutuhan spesifikasi bahan bakar pembangkit.

Baca Juga: PLN EPI Siapkan Kontrak Jangka Panjang, Ekosistem Biomassa Kian Diperkuat

Menurut Hokkop, peningkatan volume pasokan harus dibarengi dengan penguatan ekosistem biomassa secara menyeluruh.

“Tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, serta sistem distribusi yang efisien,” ujarnya.

Sekadar informasi, saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam.

Ke depan, perusahaan juga akan memperluas jaringan hub biomassa di Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, hingga Suralaya sebagai bagian dari penguatan rantai pasok biomassa nasional.

Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah Indonesia melalui investasi perusahaan maupun kolaborasi dengan mitra strategis.

Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik biomassa bagi pembangkit listrik di seluruh Indonesia.