Pratikno sebelumnya mengisi materi dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Agung Putra University, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menekuni bidang keilmuan utama, tetapi juga membangun growth mindset, learning agility, integritas, serta keterampilan T-shaped sebagai bekal menghadapi perubahan.
Kemampuan tersebut dinilai penting agar mahasiswa mampu terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kompetensi lintas bidang.
"Yang penting bagi kita itu adalah growth mindset. Tantangan dalam proses belajar itu terus ada, tidak bisa itu wajar. Yang penting berani mencoba. Itulah yang sangat penting Anda sebagai anak muda punya growth mindset, mindset untuk tumbuh, belajar terus. Kalau enggak bisa coba lagi, jangan pernah lelah untuk belajar," kata Pratikno.
Menurutnya, T-shaped skills memungkinkan seseorang memiliki satu keahlian yang dikuasai secara mendalam sekaligus wawasan luas untuk berkolaborasi dan memahami berbagai perkembangan di sekitarnya.
Dalam hal ini, garis vertikal menggambarkan keahlian utama yang ditekuni secara mendalam, sedangkan garis horizontal mencerminkan wawasan seperti komunikasi, teknologi, kerja sama, dan pemahaman terhadap masyarakat.
"Garis tegak, satu keahlian utama. Pilih, tekuni, latih, jadikan karya. Garis datar, wawasan luas: kerja sama, komunikasi, teknologi, memahami masyarakat," ujarnya.
Selain keterampilan, Pratikno juga menekankan pentingnya learning agility, yakni kemampuan untuk terus belajar secara lincah dan beradaptasi dengan perubahan.
Menurutnya, mahasiswa tidak harus terpaku pada jalur keilmuan yang linear karena dunia yang dihadapi setelah lulus dapat bergerak ke berbagai arah.
"Bisa lulus S1 lanjut linear S2 itu wajar, tetapi melanjutkan studi lanjut yang tidak linear dan sukses lulus itu adalah pembelajar sejati," ucapnya.
Pratikno juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Di tengah semakin banyaknya orang memiliki gelar sarjana, nilai seseorang akan semakin ditentukan oleh karya, kontribusi, serta manfaat yang dihasilkan.
"Jangan hanya terbebani, bahwa saya harus sarjana. Itu betul, ijazah betul, tapi hampir semua orang punya ijazah. Nanti ke depan semua orang punya ijazah sarjana, makin inflasi, tidak ada harganya ijazah. Yang dihargai orang adalah pada akhirnya adalah apa yang pernah Anda perbuat, karya apa yang pernah Anda produksi, kontribusi apa yang pernah Anda lakukan," jelasnya.
Baca Juga: Destry Resmi Pimpin BI, Stabilitas Makro Jadi Fokus Utama 2026-2031