PTAR targetkan restorasi 500 hektare kawasan hingga 2034 - ANTARA News Sumatera Utara

Tapanuli Selatan (ANTARA) - PT Agincourt Resources (PTAR) menargetkan pemulihan kawasan area preservasi Martabe melalui program rehabilitasi sekitar 521.37 hektare hingga tahun 2034, sebagai bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati dan mendukung keberlanjutan ekosistem di sekitar wilayah operasional Tambang Emas Martabe, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

"Program rehabilitasi tersebut mulai dijalankan sejak 2025 dan mencakup kawasan preservasi Martabe yang telah dipetakan perusahaan," kata Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development Agincourt Resources, Syaiful Anwar kepada Antara, Sabtu.

Menurut dia, target tersebut berada di luar penanganan sejumlah titik yang mengalami longsor akibat bencana, sehingga luasan area yang harus dipulihkan berpotensi bertambah.

Selain rehabilitasi area preservasi, hingga Juli 2026 PTAR tercatat telah melakukan reklamasi area bekas aktivitas penambangan sebesar 56.75 hektare, reklamasi lahan tersebut berjalan sejak tahun 2012. Sejumlah area reklamasi telah mencapai tingkat keberhasilan 100 persen berdasarkan penilaian sebelumnya.

Kemudian, dalam mendukung pemulihan ekosistem, perusahaan mengembangkan pembibitan dengan menggunakan tanaman lokal. Saat ini terdapat sekitar 76 spesies tanaman yang dikembangkan untuk kebutuhan reklamasi, rehabilitasi pada area bekas aktivitas penambangan dan area preservasi Martabe untuk tujuan konservasi, termasuk jenis tanaman yang menjadi sumber pakan satwa seperti orangutan.

Di katakan, tanaman yang dikembangkan antara lain beringin, kapur, meranti, jotik jotik, barus, durian, cempedak hutan, nangka hutan, jengkol hutan dan sejumlah jenis tanaman lokal lainnya. Penggunaan tanaman lokal menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun kembali ekosistem yang menyerupai kondisi hutan alam sekaligus menghindari penggunaan spesies invasif.

Untuk kawasan reklamasi yang baru selesai penataan, perusahaan terlebih dahulu menanam tanaman yang memiliki pertumbuhan relatif cepat guna membentuk naungan. Setelah kondisi lingkungan mendukung, tanaman hutan lokal kemudian ditanam sehingga proses pemulihan ekosistem dapat berlangsung secara bertahap.

Sementara itu, bibit yang telah ditanam di lapangan dipantau secara berkala, minimal sekali dalam dua bulan. Pengawasan dilakukan untuk mengetahui kondisi tanaman, termasuk mengganti atau menyulam bibit yang mati maupun mengalami gangguan.

Di katakakannya lagi bahwa khusus pada kawasan hutan alam yang memiliki keterbatasan jaringan komunikasi, setiap tanaman yang ditanam diberikan titik koordinat GPS sehingga tim dapat melakukan pemantauan secara lebih terukur. Tantangan lainnya berupa curah hujan tinggi dan kondisi medan yang sulit dijangkau.

PTAR juga, kata dia, menerapkan teknik hydroseeding pada area reklamasi yang berlereng. Teknik tersebut dilakukan dengan menyemprotkan campuran air, benih, pupuk dan nutrisi menggunakan tangki ke permukaan lahan untuk menumbuhkan tanaman penutup tanah atau cover crop sebagai tahap awal pemulihan lahan.

Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.