PTPN Ubah Strategi Bisnis Karet, tak Lagi Kejar Volume Produksi |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan lanskap industri karet global mendorong pelaku usaha mengubah strategi bisnis untuk menjaga daya saing. Selain meningkatkan produktivitas, perusahaan mulai mengedepankan pengelolaan aset biologis yang berkelanjutan, pengambilan keputusan berbasis data, serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi.

Salah satu langkah tersebut dilakukan Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melalui transformasi bisnis karet yang berfokus pada peningkatan kualitas produksi dan profitabilitas jangka panjang. Strategi tersebut dibahas dalam Rubber Business Strategy & Execution Forum bertajuk Rethinking Rubber Exploitation di PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Bogor.

Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III Rizal H. Damanik mengatakan forum tersebut menjadi wadah menyelaraskan strategi bisnis sekaligus merumuskan langkah implementasi menghadapi perubahan industri karet global.

"Forum ini menjadi wadah untuk menyelaraskan arah kebijakan, memperkuat strategi bisnis, dan merumuskan langkah-langkah implementasi dalam menghadapi perubahan lanskap industri karet global," ujarnya.

Menurut Rizal, transformasi bisnis karet tidak lagi cukup bertumpu pada peningkatan volume produksi. Daya saing perusahaan ke depan akan ditentukan oleh kemampuan mengelola aset biologis secara berkelanjutan, menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, serta menerapkan pengambilan keputusan berbasis data dan riset. "Dinamika industri komoditas global menuntut kita untuk terus beradaptasi," katanya.

Melalui konsep Rethinking Rubber Exploitation, PTPN mengubah pendekatan pengelolaan kebun dari sekadar mengejar kuantitas produksi harian menjadi pengelolaan aset biologis yang berorientasi pada produktivitas jangka panjang dan keberlanjutan.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah prinsip diagnosis before decision, yakni setiap keputusan teknis, mulai dari pengaturan sistem sadap hingga penggunaan stimulansia, didasarkan pada analisis kesehatan tanaman, kondisi kebun, serta efisiensi biaya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperpanjang umur produktif tanaman sekaligus meningkatkan hasil produksi secara berkelanjutan.

Selain itu, PTPN juga menggeser orientasi produksi menuju produk bernilai tambah tinggi. Perseroan menargetkan komposisi produksi bahan baku cair berkualitas premium, seperti lateks pekat dan lembaran karet berkualitas tinggi, mencapai rasio ideal 70 persen untuk meningkatkan nilai jual dan memperkuat daya saing di pasar internasional.

Transformasi bisnis turut didukung melalui penataan dan klasterisasi lebih dari 87 ribu hektare kebun karet produktif berdasarkan karakteristik dan potensi masing-masing. Kebun dengan produktivitas tinggi akan dikembangkan sebagai acuan praktik terbaik, sedangkan kebun yang memasuki fase akhir produktivitas dioptimalkan nilai ekonominya sebelum menjalani program peremajaan.

Rizal mengatakan transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fundamental bisnis karet PTPN di tengah perubahan pasar global.

"Sebagai Holding Perkebunan BUMN, PTPN III berkomitmen menjalankan transformasi bisnis yang selaras dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029," ujarnya.